Diorama.id – Bagi sebagian orang, nama Borderlands mungkin nama yang cukup asing meskipun seri ini sudah berjalan cukup lama.
Namun bagi para veteran, seri buatan Gearbox Software seri yang paling dicintai karena keunikannya. Gabungan looter shooter, humor, dan elemen RPG yang begitu kental lengkap dengan karakter ikonik membuat Borderlands jadi game super unik yang pernah dibuat.
Tahun 2025 ini, Gearbox Software dan 2K merilis Borderlands 4 sebagai game terbarunya yang didesain khusus untuk tak hanya veteran, namun juga pendatang baru akan bisa menikmatinya langsung tanpa perlu memainkan seri 1-3.
Dan saya adalah salah satu pemain baru tersebut, meskipun sebelumnya saya sempat nyicip seri Borderlands 1 dan 2 namun hanya berakhir di fase awal saja, sebelum akhirnya saya uninstall dari PC saya sendiri karena kesibukan lain yang lebih penting.
Kali ini, kami diberikan kesempatan oleh 2K Games untuk mereview Borderlands 4. Dan karena saya adalah pemain baru, maka saya akan review game ini dari perspektif pemain baru serinya.
Lantas bagaimana pengalaman saya memainkan Borderlands 4? Berikut review Borderlands 4 versi Diorama.id.
Review Borderlands 4 – Pemberontakan di Planet Kairos
Planet Kairos di Bawah Sang Diktator
Borderlands 4 bisa dikatakan soft reboot dari serinya yang bawa kita ke sebuah panggung baru bernama Kairos, sebuah planet yang dikuasai oleh sang diktator bernama Timekeeper.
Timekeeper mendambakan dunia yang sempurna di bawah kontrolnya. Ia menanamkan sebuah pengontrol bernama Bolt yang ditanamkan ke semua warga Kairos agar dia bisa mengontrol, memanipulasi, mematikan, bahkan sampai memonitor mereka.
Dengan kata lain Timekeeper adalah “sang maha melihat” di planet Kairos dan “sang maha menguasai”. Dari sini ia digambarkan sebagai diktator absolut yang tidak bisa dikhianati.
Sayang, kedamaiannya terganggu setelah para Vault Hunter mendarat darurat di planet Kairos. Para Vault Hunter ini langsung diincar Timekeeper dan dipasanglah Bolt tersebut ke punggungnya agar bisa dikuasai dan dikontrol.
Namun Vault Hunter (kamu bisa memilih antara: Vex, Amon, Rafa, dan Harlowe, di review ini saya memilih Rafa karena saya suka mekaniknya) memilih untuk melawan Timekeeper setelah Bolt dipasang. Ia diselamatkan oleh Arjay dari Crimson Resistance untuk kabur dari penjara yang memenjarakan para Vault Hunter.
Sayangnya, Arjay harus tewas karena Timekeeper menunjukkan betapa kuatnya pengaruhnya sebagai the absolute dictator yang mampu melihat dan mengendalikan seseorang karena Bolt yang ia pasang.
Dari sini Vault Hunter bersumpah untuk menghentikan Timekeeper yang berkuasa di Kairos dengan bergabung bersama Crimson Resistance.
Mampukah mereka menyelamatkan Kairos dari tangan besi Timekeeper? Temukan jawabannya di Borderlands 4.
Open World Seamless yang Hidup
Hal pertama yang membuat saya takjub dari Borderlands 4 adalah dunianya yang indah dengan skala yang sangat amat luas meskipun masih pertahankan grafis kartunis seperti ciri khasnya.
Ya, saya tahu Borderlands 4 adalah game open world, tapi skalanya yang besar dan luar biasa luas tidak pernah ada di pikiran saya sama sekali.
Kairos adalah planet yang hidup. Dan jika kamu bertanya apakah luasnya Kairos ini “sepi”, jawabannya adalah tidak.
Hampir setiap sudut planet kamu akan menemukan banyak sekali pemandangan, aktivitas, bahkan random activity dari para NPC. Kamu juga bakal menemukan ragam rahasia dunianya, hingga NPC yang seolah punya kegiatannya sendiri seperti perang melawan monster atau pemberontak lain.
Kairos juga punya berbagai sudut wilayah yang seolah punya tema tersendiri, dari wilayah sabana padang rumput dengan monster uniknya, sampai wilayah gurun yang penuh pasir.
Di tengah eksplorasimu, kamu akan bisa menemukan ragam aktivitas yang sangat random. Terkadang kamu akan menemukan pesawat yang turunkan NPC untuk kamu lawan, atau melihat NPC di markas musuh yang kesulitan melawan kelelawar raksasa.
Kamu juga bisa melawan world boss yang random banget tempatnya kalau kamu suka sekali tantangan.
Semuanya terasa hidup dan sangat memuaskan jika kamu suka game open world yang “nggak sepi” dan sangat gemar eksplorasi, maka nafsu eksplorasimu akan sangat terpuaskan di sini.
Untuk mengimbangi dunianya yang luas, banyak sekali cara traversal di game ini seperti menggunakan sepeda motor atau mobil futuristik, gliding, sampai menggunakan grappling hook.
Setahu saya, grappling hook tidak pernah ada di seri sebelumnya, jadi ini jadi tambahan yang menarik.
Hanya saja karena grappling hook ini terlalu linear, ia tidak bisa digunakan secara bebas. Jadi, kamu hanya bisa menggunakan grappling hook di tempat tertentu saja yang sudah ditandai, bukan menggunakannya di bukit antah berantah.
Grappling hook juga sayangnya tidak bisa digunakan saat pertempuran layaknya grappling hook milik karakter Pathfinder di Apex Legends. Di beberapa skenario memang bisa demikian, namun tidak sama sekali untuk mayoritas semua skenariomu.
Jadi kamu tak bisa menggunakannya seperti di game Just Cause 3 untuk pindah dari poin A ke poin B dengan cepat.
Dunia Borderlands 4 mengingatkan saya ke beberapa game MMORPG premium seperti World of Warcraft atau Final Fantasy XIV.
Sayangnya, beberapa lokasi di game ini terasa template dan sama saja. Misalnya beberapa safe house terasa mirip. Saya sempat menemukan safe house yang bentuknya sama persis dengan safe house lain di wilayah yang berbeda.
Beberapa lokasi di game ini juga kurang ikonik. Jadi ia terasa lebih menarik secara visual, namun tidak terasa ikonik secara kreatif. Misalnya kamu akan disuguhi lokasi tertentu, maka kamu nggak bakal langsung tahu ini lokasi dari game Borderlands 4.
Meskipun dunianya luas, ada banyak sekali kegiatan yang bikin puas.
Sayang, saya tidak sempat menjelajahi semuanya karena masih banyak game yang belum saya review, namun saya sempat mencoba beberapa side quest di game-nya yang menurut saya didesain dengan sangat baik.
Beberapa side quest punya cerita tersendiri yang kisahkan kehidupan di balik dunia Borderlands 4.
Salah satu yang saya ingat adalah side quest di mana kamu harus mencari fauna yang umum di sana sebagai ternak diculik oleh pesawat berbentuk segitiga mirip UFO segitiga yang sering muncul di berita dan teori konspirasi.
Seolah menyindir banget gimana berita UFO yang sempat muncul di dunia nyata dengan humor dan komedi yang khas dari Borderlands.
Side quest lain seperti menemukan pembunuh dari teman seorang NPC yang telah dihabisi juga memberikan model permainan yang berbeda dan tambah lore Kairos semakin kaya.
Memang, pada akhirnya kamu akan baku tembak seperti biasa, namun side quest inilah yang membuat dunia Kairos semakin hidup.
Looting, Shooting, Repeat
Baku tembak di game ini mengingatkan saya ke game seperti Destiny 2 karena konsepnya kurang lebih mirip. Hanya saja Borderlands adalah game single player/co-op.
Game ini masih tidak berubah untuk urusan shooting. Tetap memuaskan karena mekanik shooting yang solid khas Borderlands yang sama persis dengan seri pertama dan kedua yang sempat saya coba dulu.
Tiap senjata punya recoil berbeda, dan setiap manufaktur punya ciri khasnya masing-masing. Misalnya seperti senjata dari manufaktur A akan punya ciri khas pelurunya selalu bisa memberikan efek ricochet, di mana ia akan terus memantul jika terkena tembok. Memudahkanmu untuk menghadapi musuh di lorong sempit.
Baca juga: Review Jurnal Risa Dark Deception DreadOut Developer
Saya sangat menyukai senjata tipe charging dan akan tembakkan semua pelurunya sekaligus untuk memberikan damage yang sangat besar ke musuh baik musuh biasa maupun elite.

Leave a Reply