Indotify.com – Digital Happiness, pengembang game asal Indonesia yang sebelumnya sukses dengan seri DreadOut, kini kembali merilis karya terbarunya berjudul Jurnal Risa: Dark Destiny.
Game ini telah resmi diluncurkan pada tanggal 25 September dan segera menarik perhatian komunitas gamer di tanah air.
Jurnal Risa mengadaptasi kisah nyata dari Risa Saraswati, yang diwujudkan dalam bentuk visual novel horor dengan sentuhan budaya Indonesia yang kental.
Keunikan game ini terletak pada penggunaan dubbing asli dari Risa dan timnya, serta penambahan unsur humor ringan yang akrab di telinga pemain Indonesia.
Namun, apakah semua ekspektasi yang terbangun sebanding dengan pengalaman bermain yang ditawarkan? Mari kita telaah lebih dalam.
Cerita
Struktur cerita dalam game ini terbagi menjadi tiga Act. Setiap Act menyajikan potongan-potongan pengalaman Risa yang saling terkait. Fokus utama narasi adalah sosok Samex, entitas gaib yang sering menghantui keluarganya, yang dipadukan dengan elemen kehidupan mereka sebagai kreator konten horor.
Setiap Act menawarkan alur cerita yang menarik. Mulai dari upaya mengungkap masa lalu leluhur di era kemerdekaan, kisah arwah yang terperangkap akibat masa lalu kelam, hingga kembalinya sosok dari masa lalu yang menghantui teh Risa.
Semua elemen cerita disampaikan melalui format visual novel yang didukung dubbing asli, humor kering, dan atmosfer budaya lokal yang kuat.
Meskipun demikian, beberapa pengisi suara terdengar kurang ekspresif pada momen-momen krusial yang seharusnya penuh emosi. Selain itu, alur cerita yang cenderung linier membuat akhir cerita mudah ditebak.
Seperti halnya produk hiburan lainnya, cerita dalam Dark Destiny tidak luput dari kekurangan, namun tetap berhasil menyajikan narasi yang sangat memikat.
Gameplay
Sebagai sebuah visual novel, Jurnal Risa: Dark Destiny menempatkan prioritas pada narasi dibandingkan aksi. Animasi disajikan dalam format seperti presentasi slide, di mana pemain hanya perlu memilih opsi yang akan menentukan akhir cerita, mulai dari *good ending*, *bad ending*, hingga *game over*.
Terdapat pula mini-game ringan seperti menyusun puzzle gambar, mencari objek tersembunyi ala Where’s Waldo, hingga menekan tombol sesuai instruksi. Tingkat kesulitan yang ditawarkan tidaklah tinggi, sehingga cocok bagi pemain yang baru mencoba genre ini.
Namun, sistem *loading screen* terkadang terasa mengganggu. Sebagai contoh, saat memasuki Spirit Realm, transisi *loading* bisa muncul berulang kali dan berpotensi merusak imersi pemain.
Sebagai ilustrasi, pada Act 2, pemain akan menemukan momen di mana teh Risa sedang mencari dokter hantu yang menyebabkan kematiannya akibat praktik klinik aborsi ilegal.
Dalam rentang waktu satu menit, pemain bisa mengalami tiga kali *loading screen*, dimulai dari Risa yang mencari dokter di kamar mandi, saat Risa memasuki Spirit Realm, dan saat keluar dari Spirit Realm.
Jurnal Risa Dark Deception, Game Untuk Siapa?
Bagi Anda yang mencari pengalaman horor dengan gameplay intens, penuh adegan kejar-kejaran dan *jumpscare* tanpa henti layaknya Outlast atau demo legendaris PT yang memicu adrenalin, game ini mungkin bukan pilihan utama.
Namun, jika tujuan Anda adalah menikmati kisah horor khas Indonesia dengan nuansa mistis yang kental, atau sekadar ingin mendukung karya anak bangsa, game ini sangat layak untuk dicoba.
Fokus utama game ini bukanlah pada aksi gameplay yang menegangkan, melainkan pada kedalaman alur cerita dan atmosfer yang berhasil diciptakan.
Meskipun tidak seintens game horor kelas berat, Jurnal Risa tetap mampu menghadirkan momen-momen yang membuat pemain merasa tidak nyaman.
Terdapat adegan-adegan yang mengganggu, suara-suara mendadak yang mengejutkan, dan atmosfer yang cukup menyeramkan. Semua elemen ini berhasil membangun ketegangan tersendiri, meskipun visualnya cenderung lebih sederhana.
Animasi dalam game lebih banyak ditampilkan dalam format *slide show* yang menyerupai presentasi, jadi jangan mengharapkan *cutscene* sinematik dengan grafis tinggi.
Namun, hal ini tidak mengurangi esensi pengalaman horornya. Gaya penyajian seperti ini justru mendorong pemain untuk lebih fokus pada cerita dan misteri yang disajikan, sehingga nuansa horornya tetap terasa kuat.
Bisa Dimainkan Berulang Kali?
Game ini menawarkan beberapa *ending* yang berbeda dan koleksi foto arwah yang dapat dikumpulkan. Terdapat pula *achievement* di Steam bagi pemain yang menyukai tantangan untuk mencapai 100%.
Namun, karena gameplay yang cenderung repetitif, sebagian pemain mungkin akan merasa cepat bosan jika harus mengulang dari awal.
Baca juga: Ryan Hurst Pemeran Kratos God of War Live Action Resmi Ditunjuk
Performa dan Bug?
Pada saat peluncuran, sempat ditemukan beberapa bug, seperti kesalahan pada mini-game dan aset visual yang tidak sesuai. Beruntung, Digital Happiness sigap memberikan pembaruan (*update*) sehingga masalah tersebut dapat segera diatasi. Dari sisi performa, game berjalan lancar tanpa masalah penurunan *frame rate* (FPS drop).

Leave a Reply