Home » Rahasia Grafis Tinggi: Unreal Engine Bukan Penentu Utama (Bukan Sekadar Engine)

Rahasia Grafis Tinggi: Unreal Engine Bukan Penentu Utama (Bukan Sekadar Engine)

Diorama.id – Jika Anda ingin menciptakan sebuah karya digital, maka umumnya Anda memerlukan perangkat lunak untuk membantu proses pengembangannya.

Misalnya, jika Anda adalah seorang editor video, Anda akan membutuhkan perangkat lunak seperti CapCut, Adobe Premiere Pro, Adobe After Effects, atau Davinci Resolve. Ada pula perangkat lunak yang lebih canggih yang biasa digunakan oleh editor film Hollywood, seperti Nuke.

Atau, jika Anda seorang seniman visual yang gemar menggambar, Anda dapat menggunakan Photoshop, Paint Tool SAI, Clip Studio Paint, dan lain sebagainya untuk menghasilkan gambar seperti ilustrasi atau karya serupa.

Dan jika Anda adalah seorang pengembang game, maka Anda memerlukan alat yang disebut Game Engine. Pilihan yang tersedia antara lain Unity, Unreal Engine, CryEngine, RenPy, Godot, atau RPG Maker.

Nah, untuk kategori terakhir ini, banyak sekali kesalahpahaman yang terjadi. Selama ini, banyak orang yang mengira bahwa jika sebuah game menggunakan Unreal Engine 5, maka grafisnya pasti akan sangat bagus.

Padahal, itu bukanlah satu-satunya penentu. Bahkan jika Anda menggunakan Unity Engine sekalipun, Anda tetap dapat menghasilkan grafis yang bagus, setara, bahkan melebihi kemampuan Unreal Engine 5.

Lalu, mengapa kesalahpahaman ini begitu meluas? Saya akan menjelaskannya secara sederhana dengan opini, ditambah sedikit riset yang saya lakukan melalui artikel ini, menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan tidak terlalu teknis.

Berhenti Mendewakan Unreal Engine: Ini Rahasia Kenapa Game Engine Bukan Penentu Utama Grafis Tinggi

‘Ditipu Marketing’, Tapi Percaya dalam Penyederhanaan Sendiri

Unreal Engine 5 selalu jadi

Mari kita ambil contoh Unreal Engine saja, karena game engine yang satu ini selalu muncul dengan pemasaran yang mengesankan dan inovasi yang luar biasa. Bagi para pengembang game AAA, biasanya jika mereka menggunakan Unreal Engine 5, grafis game yang dihasilkan pasti akan bagus.

Black Myth Wukong / Game Science

Contohnya adalah game seperti Black Myth Wukong. Anda dapat melihat betapa mulusnya animasi bulu Wukong, pencahayaan yang keren, hingga bagaimana warna dan visualnya menciptakan ilusi bahwa tampilannya benar-benar memanjakan mata.

Dengan banyaknya game AA dan AAA yang menggunakan Unreal Engine 5 dan menampilkan visual seperti itu, termasuk Wukong, muncul pemahaman di kalangan gamer awam bahwa game yang memakai Unreal Engine 5 pasti memiliki grafis yang tinggi.

Padahal kenyataannya, ini hanyalah ‘marketing’ dari Epic Games. Mereka hanya menampilkan dalam setiap showcase mereka bahwa Unreal Engine 5, jika dimaksimalkan fitur-fiturnya, dapat menghasilkan visual seperti yang mereka tunjukkan.

Kesalahpahaman ini membuat gamer awam ‘tertipu’ oleh pemasaran dengan hasil game AA atau AAA yang memiliki visual bagus.

Saking bagusnya, bahkan game seperti Where Winds Meet sering dikira menggunakan Unreal Engine 5 karena efeknya yang sangat mirip dengan tampilan visual khas Unreal Engine 5. Padahal, mereka membuat game engine sendiri untuk menciptakan game tersebut.

Sayangnya, saya masih sering melihat fenomena “Unreal Engine 5 = grafis bagus” yang merajalela di kalangan gamer Indonesia.

Salah satu contohnya adalah video yang saya sertakan di atas. Singkatnya, inti dari video tersebut adalah bahwa kebanyakan orang menganggap game engine sebagai penentu grafis, meskipun di awal disebutkan bahwa game engine adalah sebuah alat.

Ini adalah pemahaman yang keliru karena, seperti yang dijelaskan dalam video tersebut, game engine hanyalah sebuah alat.

Sehingga, hal ini seolah menjelaskan bahwa hampir semua gamer Indonesia yang cenderung menyederhanakan hal-hal yang kompleks, telah termakan oleh ‘marketing’ dari game engine A, B, C yang digunakan oleh developer A, B, C, yang berarti grafisnya bagus.

Game Engine Itu Cuman Tools, Developer yang Nentuin ‘Grafisnya Bagus’

Kalau kamu dikasih pensil 2B, maka hasil gambarmu bisa aja seperti ini kalau kurang skill gambar / Ilustrasi oleh: Nichola Scurry (nicscurry.medium.com)

Padahal, dalam kenyataannya tidak seperti itu. Mari kita gunakan analogi sederhana. Anda dan teman Anda sama-sama menggunakan pensil 2B untuk menggambar. Yang menentukan apakah gambar Anda bagus atau tidak bukanlah pensilnya, melainkan kemampuan menggambar Anda dan teman Anda.

Sama seperti game engine. Ia hanyalah sebuah alat. Yang menentukan grafisnya bagus atau tidak adalah developernya. Seberapa mahir mereka memanfaatkan semua fitur seperti Lumen, Nanite, atau fitur pencahayaan seperti ray-tracing serta baked shadow?

Tapi kalau kamu sudah jago gambar, maka pensil 2B itu mungkin bisa bikin gambar kayak gini / Ilustrasi oleh: Joanne Morais - Artzolo.com

Game engine hanya membantu Anda untuk mencapai kualitas grafis yang diinginkan dengan berbagai fitur yang tersedia. Entah itu menjadi lebih mudah atau justru lebih sulit.

Sebagai contoh kasar lainnya. Unreal Engine tidak memiliki sistem kehancuran yang bagus. Maka, Anda sebagai developer harus membuatnya sendiri jika ingin menciptakan sistem yang baik. Baik itu melalui skrip (ditentukan jika bangunan ditembak berapa kali di sisi tertentu) atau secara real-time.

Lalu, mengapa game seperti The Finals bisa memiliki efek kehancuran yang realistis? Ya, karena developernya membuat sistem baru untuk efek kehancuran tersebut. Dan itu membutuhkan keahlian, bukan semata-mata karena game engine-nya.

Contoh lain. Jika game engine yang menentukan grafis, lalu bagaimana bisa game Troublemaker 2 yang menggunakan Unreal Engine 4 memiliki grafis yang tidak setara dengan Final Fantasy VII Remake? Ya, kembali lagi pada developernya, bukan game engine-nya.

Baca juga: Cheat GTA San Andreas Terlengkap: PS2, PS3, PS4, PS5, PC, Android 2026

Jika developer Troublemaker 2 ingin membuat grafis seperti FF7 Remake, ya bisa saja. Namun, mereka tidak ingin melakukannya karena berbagai pertimbangan, termasuk spesifikasi PC kentang gamer Indonesia yang jumlahnya lebih banyak.

Apakah grafis Troublemaker 2 sama kayak Final Fantasy VII meski pakai Unreal Engine 4? Tentu tidak / Gamecom Team

Bahkan, pengembang game yang sudah berpengalaman sendiri mengatakan bahwa game engine memang hanyalah sebuah alat.

Artikel dari Universitas BINUS yang satu ini juga menjelaskan bagaimana game engine adalah alat yang memungkinkan developer untuk membuat game sesuai dengan kebutuhan mereka.

Memang, artikel tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan grafis video game, karena yang dibahas adalah bagaimana game engine dibuat untuk memenuhi kebutuhan developer game dalam menciptakan fungsi yang mereka perlukan.

Namun, secara tidak langsung, artikel BINUS tersebut juga menjelaskan bahwa baik buruknya sebuah video game bergantung pada pembuatnya dan cara menggunakan bahan-bahannya.

Mereka juga memberikan contoh seperti RenPy yang dibuat untuk game visual novel apa pun yang diinginkan developer, atau RPG Maker yang dapat digunakan untuk membuat game RPG tertentu.

Fungsi game engine sangat banyak, tergantung pada developer yang membuat game engine tersebut, apalagi untuk game engine yang bukan game engine komersial.

Misalnya Frostbite Engine buatan DICE, developer dari Battlefield. Awalnya, engine ini dibuat untuk fungsi game shooter dengan mekanik perang yang melibatkan banyak pemain. Kemudian, dievolusikan sebagai game engine dengan kehancuran yang dinamis, meskipun aslinya adalah scripted destruction, namun memakan sumber daya yang lebih rendah saat dijalankan di PC atau konsol Anda. Makanya, setiap kehancuran gedung di Battlefield tidak berat, padahal animasinya luar biasa.

Dengan adanya developer EA lain yang menggunakan Frostbite untuk membuat genre lain, mereka harus membuat kode baru untuk mendukung game yang mereka buat, karena fungsi Frostbite Engine tidak ada untuk itu.

Mass Effect Andromeda / BioWare, EA

Hal ini pernah diungkap oleh developer Mass Effect yang kesulitan menggunakan Frostbite Engine untuk membuat Mass Effect Andromeda, karena game engine tersebut memang hanya digunakan untuk membuat game shooter.

Akibatnya? Mereka harus membuat game tersebut dari nol. Semua kodenya harus ditulis ulang agar dapat memenuhi fungsi game yang mereka buat. Makanya, saat game tersebut dirilis, bug-nya tidak masuk akal banyaknya. Ya, karena game engine-nya tidak dibuat untuk itu.

Sementara itu, video seperti video di atas dari iFrames menjelaskan bagaimana hubungan antara Art Direction dengan Graphical Fidelity.

Singkatnya, video tersebut menjelaskan bagaimana Graphical Fidelity sebenarnya adalah alat yang tersedia di game engine. Baik itu realistis atau kartunis, game engine siap mendukungnya. Sementara Art Direction adalah yang memberikan jiwa pada tampilan video game.

Namun, video tersebut juga menjelaskan bahwa Art Direction bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan Graphical Fidelity, melainkan saling membantu satu sama lain.

Batman Arkham Knight / Rocksteady, Warner Bros

Misalnya, Batman Arkham Knight. Game ini dibuat di Unreal Engine 3 yang biasanya hanya memiliki “grafis ampas” jika dilihat dari beberapa game yang menggunakan game engine ini. Namun, jika Anda melihat grafis Arkham Knight di tahun 2025, terlihat bahwa game ini masih memiliki grafis yang seolah tidak lekang oleh waktu.

Di sinilah sebenarnya fungsi Art Direction, yang hanya dapat dilakukan oleh sang developer, yaitu manusia, bukan game engine-nya. Dari sini, Anda dapat melihat kemampuan artistnya dalam memberikan atmosfer horor, kota Gotham yang mencekam, hingga bagaimana Anda merasakan jika bukan Batman yang Anda kendalikan dan Anda sendirian di kota Gotham berjalan-jalan, rasanya akan mencekam.

Begitu pula dengan game seperti Alan Wake 2, Control, GTA V. Semua berkat kerja sama simbiosis mutualisme.

Artikel dari Game Developer juga menjelaskan bagaimana Taka Kawasaki, perwakilan Epic Games Japan, menjelaskan bahwa Game Engine bukanlah sesuatu yang menjadi “silver bullet” atau bisa disejajarkan seperti juru selamat yang bisa menyelesaikan masalah video game.

Ia menjelaskan bagaimana Game Engine hanyalah alat untuk membuat game. Developer sendiri yang harus mengatur Game Engine agar terlihat sesuai dengan game yang mereka buat.

Final Fantasy VII Remake / Square Enix

Contoh paling mudah bagaimana developer game dapat menggabungkan alat yang ada di Unreal Engine 4 agar sesuai dengan keinginan mereka adalah Final Fantasy VII Remake. Di sini, Square Enix benar-benar memodifikasi game engine tersebut agar sesuai dengan kebutuhan mereka untuk membuat game tersebut, ditambah dengan Art Direction yang baik.

Artikel menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *