– Bermain sebagai pencuri dalam video game bisa menjadi pengalaman yang menarik bagi sebagian orang, namun mungkin kurang diminati oleh yang lain. Profesi pencuri umumnya identik dengan tindakan mengendap-endap, mengambil barang atau dokumen penting tanpa terdeteksi. Hal ini menuntut pemain untuk memahami kapan harus melumpuhkan penjaga atau kapan harus memasang jebakan untuk mengalihkan perhatian mereka.
Namun, dalam ranah video game, berbagai inovasi dapat diterapkan untuk menjadikan genre ini lebih menarik. Salah satu caranya adalah dengan mengemasnya dalam latar fantasi yang unik dengan tambahan perangkat (gadget) yang tidak biasa. Inilah yang coba dihadirkan oleh game Thick as Thieves.
Game indie ini dikembangkan oleh tim yang sebelumnya terlibat dalam pembuatan game stealth legendaris seperti Thief, serta game RPG dengan narasi bercabang seperti Deus Ex. Thick as Thieves menempatkan pemain sebagai seorang pencuri dengan keahlian khusus di dunia fantasi yang penuh dengan gadget menarik dan imajinasi yang hidup.
Proses pencurian dalam Thick as Thieves menuntut kemampuan berpikir taktis dan logis yang kuat. Seringkali, pemain harus berpikir cepat dan menghafal rute-rute tertentu di dalam peta. Bagi penulis, game ini menawarkan daya tarik tersendiri. Kecintaan pada genre stealth, meskipun belum sempat memainkan seri Thief secara mendalam, membuat aktivitas mengelabui musuh sambil melakukan backtracking menjadi sesuatu yang sangat memuaskan.
Beruntungnya, tim Diorama.id mendapatkan kesempatan untuk mencoba game ini lebih awal berkat kemurahan hati dari OtherSide Entertainment dan Megabit Publishing. Perlu dicatat bahwa peninjauan ini dilakukan secara solo, karena saat review copy diberikan, fitur co-op belum sepenuhnya siap. Oleh karena itu, pengalaman bermain penulis mungkin akan berbeda dengan yang akan dirasakan pemain lain nantinya.
Lantas, bagaimana pengalaman bermain Thick as Thieves? Berikut adalah ulasannya.
Review Thick as Thieves – Jadi Maling Fantasi yang Dikejar Deadline
Buktikan Diri Sebagai Master Pencuri di Dunia Fantasi
Thick as Thieves sebenarnya memiliki premis yang menarik jika saja dilengkapi dengan cerita kampanye sinematik yang mendalam, mirip dengan game seperti Dishonored. Namun, game ini lebih fokus pada konsep dunia dan perjalanan karir pemain dalam membuktikan diri sebagai Pencuri Agung di dunia bernama Kilcairn.
Dalam game ini, pemain akan berperan sebagai Spider, karakter default pertama yang digunakan untuk membuktikan status sebagai pencuri terbaik di Kilcairn. Mulai dari sini, pemain akan menerima berbagai kontrak dengan alur cerita masing-masing. Setiap kontrak mengharuskan pemain untuk menyusup ke berbagai mansion dan mencuri tanpa terdeteksi.
Mampukah kamu menjadi pencuri terbaik di Kilcairn? Semua bergantung pada keahlianmu di Thick as Thieves.
Dua Protagonis dengan Kemampuan Berbeda
Meskipun dirancang sebagai game co-op, Thick as Thieves tetap nyaman dimainkan sendiri. Keunikan game ini terletak pada dua tipe karakter yang berbeda, masing-masing dengan kemampuan uniknya: Spider dan Chameleon. Kedua karakter ini menawarkan gaya bermain yang berbeda dan bisa dimainkan secara bergantian atau bersama dalam mode co-op.
Baca juga: Game Harvest Moon Wajib Dimainkan: Panduan Lengkap
Spider adalah karakter perempuan default yang akan dimainkan sejak awal permainan. Ia memiliki kemampuan khas pencuri pada umumnya: gesit, lincah, dan dilengkapi dengan gadget seperti grappling hook yang memungkinkannya menjangkau area yang sulit diakses.
Sementara itu, Chameleon adalah karakter yang lebih lugas dan cenderung berada di garis depan saat menjalankan misi. Keunggulannya terletak pada kemampuan menyamar menjadi salah satu penjaga, sehingga ia dapat melewati mereka tanpa terdeteksi.
Dunia Kilcairn digambarkan sebagai perpaduan antara dunia nyata dan fantasi yang unik, menciptakan kemungkinan tak terbatas. Mulai dari penggunaan gadget terbang bertenaga sihir hingga penjaga hantu yang mampu menembus tembok dan mengejar pemain. Hal ini memungkinkan pemain untuk memanfaatkan gadget atau kemampuan salah satu dari dua karakter secara tersinkronisasi dengan baik, atau menggunakan metode stealth klasik.
Level Kompleks dan Deadline yang Menantang
Berbicara mengenai dunia Kilcairn, game ini menyajikan desain level yang cukup kompleks, terutama bagi pemain baru. Namun, dengan pendekatan observatif, setiap area sebenarnya dapat dipahami dengan relatif mudah. Setiap level dipenuhi dengan berbagai lapisan, mulai dari gerbang tersembunyi, penjaga manusia dan hantu, robot patroli, lampu sorot, hingga jebakan.
Pemain dapat menjelajahi berbagai area seperti lantai dasar, lantai atas, ruang bawah tanah, hingga ruangan rahasia untuk mencari petunjuk guna menyelesaikan misi. Meskipun tujuan utamanya hanya mencuri barang tertentu, game ini tidak pernah memberikan lokasi pastinya secara langsung. Pemain harus menemukannya sendiri melalui eksplorasi dan petunjuk yang tersebar di setiap peta.
Gameplay-nya sendiri sangat bergantung pada elemen stealth yang terasa cukup realistis. Pemain harus bersembunyi dalam bayangan, menghindari sorotan lampu sihir, menggunakan granat asap, dan melumpuhkan musuh secara diam-diam. Bahkan langkah kaki yang salah atau sedikit mengintip saja bisa membuat penjaga curiga dan langsung mencari keberadaan pemain.
AI musuh dalam game ini juga cukup agresif. Mereka akan memeriksa area sekitar dengan lebih teliti, tidak hanya terpaku pada satu titik saat melakukan investigasi. Namun, game ini menyediakan kemampuan melihat menembus tembok sejak awal permainan. Kemampuan ini sangat membantu untuk mendeteksi jebakan dan musuh di balik tembok, sehingga pemain tidak akan kesulitan menghindari penjaga saat memeriksa lokasi terakhir.
Semakin lama bermain, penulis mulai menikmati bagaimana game ini memaksa pemain untuk menghafal pola patroli musuh dan mencari solusi teraman untuk mencuri tanpa terdeteksi. Terlebih lagi, musuh tidak bisa dibunuh, hanya bisa dibuat pingsan sementara. Pendekatan ini benar-benar mencerminkan peran seorang pencuri, bukan seorang pembunuh.
Sayangnya, membaca peta dalam game ini terkadang cukup membingungkan. Penulis beberapa kali harus berputar-putar mencari jalur sambil menghindari penjaga dan area yang belum dijelajahi. Ada pula area di mana petunjuk misi berada di dekat menara, namun lokasi sebenarnya justru berada di bangunan bawah yang terpisah. Hal ini menyebabkan terbuangnya banyak waktu hanya untuk memindai area.
Masalah lain yang cukup mengganggu adalah sistem deadline. Dalam jangka waktu tertentu, pemain dipaksa untuk keluar melalui portal sihir yang muncul secara acak, sehingga eksplorasi terasa dibatasi. Padahal, penulis pribadi lebih suka mempelajari peta dan merencanakan strategi secara perlahan dalam setiap game stealth.
Sistem ini memang membuat permainan terasa lebih menegangkan dan memiliki nilai replayability. Namun, di sisi lain, hal ini mengurangi kepuasan eksplorasi pribadi penulis, mirip dengan pengalaman saat memainkan Outer Wilds yang membuatnya memutuskan untuk melakukan pengembalian dana.
Mungkin pengalaman bermain akan terasa lebih seru dalam mode co-op, karena pemain dapat berbagi tugas saat menjalankan misi. Sayangnya, penulis belum sempat mencobanya karena fitur tersebut belum tersedia saat peninjauan, sehingga terpaksa harus mengulang misi yang sama berkali-kali sendirian. Kekecewaan ini sayangnya berlanjut ke pengaturan dasar yang diimplementasikan.
Nihilnya Setting Basic
Saat penulis memainkan game ini setelah menerima review copy dari pengembang, ditemukan banyak sekali pengaturan dasar yang seharusnya ada di game first-person namun tidak tersedia. Hal ini mencakup batas frame rate (FPS), field of view (FOV), sensitivitas mouse yang terlalu sederhana, serta subtitle untuk memahami konteks narasi saat tidak menggunakan headset dan hanya mengandalkan speaker eksternal.
Penulis pribadi lebih suka mengatur field of view di kisaran 100-110 agar pandangan terasa lebih luas. Hal ini membuat permainan terasa kurang nyaman karena tidak dapat melihat jarak yang cukup luas di area sempit, seperti saat memasuki lorong panjang yang gelap. Tentu saja, ini hanya masalah preferensi pribadi.
Namun, yang agak membingungkan adalah pengaturan sensitivitas mouse yang hanya dibatasi pada opsi low, medium, dan high. Tidak ada kebebasan untuk mengatur sensitivitas mouse secara spesifik seperti pada game aksi pada umumnya. Meskipun sudah diatur ke low, menurut selera pribadi penulis, pengaturan sensitivitasnya masih terasa kurang rendah, karena terbiasa memainkan game sejenis dengan sensitivitas sekitar 1-1.2 (kebiasaan dari game shooter).
Kesimpulan
Thick as Thieves menawarkan pengalaman stealth yang cukup unik dengan pendekatan yang realistis dan menegangkan. Game ini berhasil membuat pemain benar-benar merasa seperti seorang pencuri melalui mekanik bersembunyi di balik bayangan, pola patroli musuh yang agresif, serta desain level yang mendorong observasi dan penghafalan area.
Sensasi berhasil menyusup tanpa terdeteksi menjadi daya tarik terbesar yang membuat gameplay-nya terasa memuaskan. Sayangnya, pengalaman tersebut sedikit terganggu oleh sistem peta yang terkadang membingungkan dan implementasi deadline yang membatasi eksplorasi.
Bagi pemain yang suka mempelajari level secara perlahan sebelum mengeksekusi misi, sistem ini mungkin akan menimbulkan frustrasi. Namun, bagi mereka yang menikmati tekanan, improvisasi cepat, dan elemen replayability, konsep tersebut justru bisa menjadi nilai tambah tersendiri.
Potensi mode co-op juga terlihat menjanjikan untuk membuat pengalaman mencuri terasa lebih dinamis dibandingkan bermain sendirian. Terlebih lagi, pengembang menyebutkan bahwa game ini akan dijual dengan harga perkenalan sekitar 5 USD.
Thick as Thieves
- Platform: PC, PS5, Xbox Series (Direview di PC, Akses Disediakan oleh OtherSide Entertainment dan Megabit Publishing)
- Durasi Permainan: 4-7 jam (Bervariasi tergantung kecepatan)
- Harga: Belum ada harga resmi selain 5 USD sebagai perkenalan.
- LINK: PC (Steam), PS, Xbox
- Skor: 7
Game Ini Cocok untuk
- Penggemar game stealth seperti Thief, Dishonored, atau Hitman
- Pemain yang menikmati tantangan stealth realistis
- Pecinta roguelite dengan elemen tekanan waktu
- Pemain yang menyukai gameplay trial-and-error dan improvisasi cepat
- Orang yang tertarik bermain co-op stealth
Game Ini Tidak Cocok untuk
- Pemain yang menyukai eksplorasi santai tanpa tekanan waktu
- Pemain yang mudah frustrasi saat kesulitan membaca peta
- Pemain yang lebih suka aksi stealth daripada bersembunyi total
- Orang yang menginginkan kebebasan sandbox seluas immersive sim
- Pemain yang tidak suka mengulang progres setelah gagal
- Pemain yang menginginkan pacing lambat dan metodis dalam game stealth
Pros
- Mekanik stealth terasa realistis dan menegangkan
- AI musuh cukup responsif dan aktif
- Desain level kompleks dan mendorong observasi
- Sensasi menjadi “pencuri” terasa kuat karena musuh tidak bisa dibunuh
- Banyak pendekatan stealth yang bisa digunakan
- Progresi dan elemen roguelite memberikan replayability
- Atmosfer mencuri dan infiltrasi cukup memuaskan
Cons
- Peta terkadang membingungkan dan kurang intuitif
- Tujuan seringkali sulit ditemukan meskipun sudah ditandai
- Sistem batas waktu membatasi eksplorasi
- Kebebasan sandbox stealth masih terasa terbatas
- Progres awal terasa cukup ketat dan membatasi kreativitas

Leave a Reply