Home » Proses Riset 2,5 Bulan untuk Membangun Set Penjara Ghost In the Cell

Proses Riset 2,5 Bulan untuk Membangun Set Penjara Ghost In the Cell

Proses Riset 2,5 Bulan untuk Membangun Set Penjara Ghost In the Cell

Indotify.com – Proses membangun set penjara untuk film Ghost in the Cell (2026) membutuhkan riset mendalam selama 2,5 bulan. Dennis Sutanto, sang Production Designer, memimpin timnya untuk menciptakan lingkungan penjara yang realistis, terinspirasi dari cerita mantan narapidana tanpa meniru lokasi nyata secara spesifik.

Set penjara yang dirancang memiliki dua lantai dan terdiri dari 30 sel. Pembangunannya memakan waktu tiga minggu sebelum syuting dimulai di Bandung. Proses ini melibatkan koordinasi yang ketat antara tim desain, konstruksi, dan art department untuk memastikan hasil yang optimal.

Lebih dari 110 kru terlibat dalam penataan setiap sel. Mereka menambahkan detail unik yang mencerminkan karakter penghuninya. Detail ini bervariasi, mulai dari mushola yang megah hingga blok K yang mewah untuk para koruptor. Keseluruhan set ini membentuk semacam perkampungan di lokasi syuting.

1. Riset Mendalam Menghasilkan Desain Penjara yang Realistis

Proses riset untuk desain penjara dalam film Ghost in the Cell (2026) memakan waktu sekitar 2 hingga 2,5 bulan. Dennis Sutanto menjelaskan bahwa timnya menggabungkan imajinasi visual penjara dengan cerita dari narasumber yang pernah menghuni lapas asli. Namun, mereka tidak secara spesifik meniru satu lokasi penjara tertentu.

“Kami tidak mendapatkan izin untuk masuk ke lapas asli. Jadi, kami mencari orang-orang yang pernah masuk penjara. Kami mencoba berbicara, bertanya seperti apa rasanya, bagaimana kondisi di sana, ruangan apa saja yang ada, dan bagaimana kondisinya,” ungkap Dennis.

Konsep desain produksi untuk set penjara ini adalah menciptakan suasana se-realistis mungkin. Tujuannya adalah untuk mendukung akting para pemain dan membuat mereka merasa benar-benar berada di dalam penjara sejak hari pertama syuting.

“Kami membangun dunia ini sebenarnya untuk para pemain. Jadi, kami berharap ketika para pemain masuk, sejak hari pertama menginjakkan kaki di set, mereka langsung merasakan suasana penjara,” ujar Dennis dalam wawancara virtual pada Jumat, 24 April 2026.

2. Pembangunan Set Penjara Dua Lantai Membutuhkan Tiga Minggu

Setelah desain selesai, Set Designer bertugas memvisualisasikan sketsa tersebut dalam bentuk tiga dimensi. Dennis kemudian berdiskusi dengan Art Department setelah buku panduan yang berisi semua detail selesai dibuat. Buku panduan ini mencakup berbagai elemen, mulai dari properti, detail, hingga grafis.

“Setelah gambarnya jadi, buku panduannya selesai, beserta semua properti, detail, grafis, baru kami mengajak Art Department untuk berkumpul dan melakukan pertemuan,” tutur Dennis, yang juga pernah menjadi Production Designer film Mama Mama Jagoan (2018).

Selanjutnya, Dennis berkoordinasi dengan tim Konstruksi Set untuk menentukan bahan dan material yang akan digunakan. Setelah diskusi tersebut, mereka akan menentukan jumlah personel dan perkiraan biaya yang dibutuhkan.

“Kami juga bertemu dengan tim Construction Set, para Set Builder, untuk mendiskusikan bahan, warna, material, dan bagaimana finishing-nya nanti,” sambungnya.

Proses pembangunan set penjara ini dimulai tiga minggu sebelum syuting resmi di Bandung. Karena pembangunan dilakukan dari nol, proses ini masih berlanjut bahkan saat syuting di Bandung telah dimulai.

“Jadi, dari jadwal yang ada, sepertinya tidak mungkin semua set selesai di hari pertama syuting. Makanya kami membuat timeline. Saat syuting di Jakarta dimulai, tim yang di Bandung sebenarnya sudah mulai tiga minggu sebelumnya,” jelas Dennis. Ia harus bolak-balik antara Jakarta dan Bandung untuk memantau proses syuting sekaligus pembangunan set penjara.

3. Konsep Dressing Sel Utama Berbasis Karakter

Dalam hal penataan (dressing) sel tahanan, konsepnya sangat bergantung pada karakter. Untuk enam sel utama yang menjadi fokus cerita, konsep dressing mereka sudah dijabarkan secara rinci melalui character sheet.

Setiap sel tahanan dilengkapi dengan perabotan dasar seperti tempat tidur, meja lipat, rak, dan toilet. Untuk sel-sel yang disorot secara detail, tim bahkan memasang instalasi air.

“Untuk beberapa treatment, kami memasang instalasi air, karena kami ingin ada efek tetesan air di setiap adegan. Jadi, kalau diperhatikan, akan terlihat seperti air yang menetes,” tutur Dennis Sutanto.

Dennis mengakui bahwa character sheet yang disiapkan oleh Joko Anwar sangat membantu timnya dalam menata sel milik 20 karakter utama film ini. Ia memberikan contoh konsep penataan untuk sel Anggoro (diperankan oleh Abimana Arsyasatya) dan Wildan (diperankan oleh Mike Lucock).

“Anggoro, kalau tidak salah, tidurnya di bawah. Jadi, di atas tempat tidurnya kami memasang semacam rangka, dan kami selipkan barang-barang pribadinya, seperti foto anak. Sel-sel penghuni lainnya juga demikian. Misalnya, untuk Wildan, kami menyisipkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam kertas di sudut-sudut ruangan,” jelas Dennis, yang menugaskan setiap kru Set Dresser untuk mendekorasi satu ruangan.

4. Sel Lainnya Diberi Kebebasan Kreatif

Untuk sel-sel lainnya di penjara dua lantai yang memiliki total 30 sel, Dennis memberikan kebebasan berkreasi kepada tim Set Dresser. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi imajinasi masing-masing, menghasilkan sel dengan konsep yang beragam, mulai dari tema atletik hingga musik.

Baca juga: Tebak Keluarga Beruang di Masha and The Bear, Siapa Saja Mereka?

“Untuk sel-sel lainnya, kami bermain dengan membuat character sheet tersendiri. Misalnya, penghuni sel ini suka olahraga, jadi kami memasukkan unsur-unsur olahraga, seperti membuat barbel dari pipa plastik dan semen. Atau jika penghuni sel ini suka musik, kami menggambarkannya dengan piano dan notasi musik di dinding,” cerita Dennis dengan antusias.

Menurut Dennis, ini adalah bentuk rasa kepemilikan kru terhadap film Ghost in the Cell (2026). Mereka berusaha mendekorasi sel-sel tersebut dengan maksimal, meskipun beberapa mungkin hanya muncul sekilas di layar.

5. Mushola: Set Paling Megah di Blok C

Desain mushola di blok C terlihat sangat kontras dengan ruangan-ruangan lain yang cenderung kelam. Hal ini memang sesuai dengan naskah yang ditulis oleh Joko Anwar, yang menggambarkan mushola sebagai set paling megah di blok C.

“Mushola itu jelas harus berada di lorong yang sama dengan ruang kesenian. Dan memang sejak awal sutradara menginginkan tempat ini menjadi yang paling megah di lapas,” jelas Dennis, yang juga pernah menjadi Production Designer film Pengepungan di Bukit Duri (2025).

Tim Dennis bahkan harus melakukan revisi desain mushola sebanyak dua hingga tiga kali. Hal ini karena Joko Anwar ingin mushola tersebut terlihat lebih megah lagi. Oleh karena itu, pencahayaan mushola dibuat paling terang dan bersih, berbeda dengan sel lainnya.

“Ini memang tempat yang paling berbeda dari seluruh lapas. Finishing-nya pun berbeda, catnya berbeda, wallpaper-nya. Kami menggunakan karpet, wallpaper, dan bahan-bahan yang lebih premium dibandingkan sel lainnya,” tambahnya.

6. Blok K: Sel Mewah untuk Para Koruptor

Perbandingan antara sel di blok C dan blok K, yang dihuni oleh para koruptor, sangat mencolok. Dennis menjelaskan bahwa sel di blok K dirancang dengan fasilitas yang lengkap, termasuk akses Wi-Fi, kursi pijat, dan kamar mandi pribadi.

“Blok K harus lebih besar (ruangannya), karena memiliki keluasan. Tempat tidurnya berbeda, ada ruang kerja. Ada segala macam kebutuhan yang memang dibutuhkan dalam cerita. Kami melihat, di sel itu dia (Prakasa) juga bekerja. Kami tunjukkan ada rak yang berisi folder-folder, dia punya laptop, dia punya handphone,” ujar Dennis, yang menggambarkan sel blok K layaknya sebuah “rumah”.

Kemewahan sel ini semakin terasa dengan adanya lampu ambience. Tim memilih LED yang memancarkan cahaya hangat dan nyaman, sangat berbeda dengan sel di blok C.

“Lampu ambience, maksudnya bukan lampu stand atau lampu berdiri atau lampu meja. Tapi benar-benar lampu ambience yang terlihat seperti LED yang berpendar, berpijar. Itu kan lumayan premium,” tambahnya.

Dennis mengungkapkan bahwa inspirasi desain interior sel blok K berasal dari foto atau video kondisi nyata sel para koruptor yang pernah dibagikan oleh seorang wartawan Indonesia. Hal ini membuat penonton merasakan realisme visual sel blok K.

7. Tim Besar dan “Perkampungan Set” Kru

Dennis Sutanto mengungkapkan bahwa total kru departemen yang dipimpinnya berjumlah 110 hingga 120 orang. Sekitar 75 hingga 80 orang di antaranya tergabung dalam Construction Department.

“Total tim saya mungkin sekitar 110, 120 orang. Masing-masing memiliki tugasnya sendiri,” ungkap Dennis.

Keunikan lain dari tim ini adalah mereka tinggal di “Perkampungan Set” yang berlokasi di salah satu gedung di area syuting. Gedung ini berbeda dengan set penjara utama.

“Mereka sampai membuat satu kampung, kami menamakan Perkampungan Set. Jadi, dua per tiga dari gedung itu mereka membuka tenda dan menjadikannya sebagai kampung mereka. Mereka juga punya tim catering sendiri, suplai sendiri, baik itu suplai air, makanan, maupun minuman,” lanjutnya.

Proses pembangunan set penjara dua lantai dengan 30 sel dari nol memang membutuhkan waktu dan usaha yang panjang. Namun, kerja keras tersebut membuahkan hasil yang memuaskan, terbukti dengan pujian penonton terhadap realisme set penjara di film Ghost in the Cell (2026).

Artikel menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *