Home » The Toll Keeper Story 1998: Kisah Tragis Sejarah dari Penjaga Tol

The Toll Keeper Story 1998: Kisah Tragis Sejarah dari Penjaga Tol

Indotify.com – Game simulasi interaktif bertajuk 1998 The Toll Keeper Story, hadir sebagai karya inovatif dari Gamechanger Studio, pengembang lokal yang dikenal lewat seri My Lovely. Game ini mengajak pemain menyelami peristiwa kelam kerusuhan ’98 di negara fiktif Janapa, bukan Jakarta, melalui sudut pandang seorang penjaga tol bernama Dewi.

Terinspirasi dari kejadian nyata di Indonesia pada tahun 1998, game ini menantang pemain untuk membaca, merespons, dan membuat keputusan yang akan mengarahkan pada berbagai akhir cerita. Diorama berkesempatan menjajal lebih awal 1998: The Toll Keeper Story, sehingga mari kita ulas cerita, gameplay, dan alasan mengapa game ini patut dimainkan, terutama oleh masyarakat Indonesia.

Catatan: Ulasan ini tidak akan mengandung spoiler berat mengenai alur cerita 1998: The Toll Keeper Story.

Cerita 1998 The Toll Keeper Story

Review 1998: The Toll Keeper Story

Penting untuk dipahami bahwa narasi dalam The Toll Keeper Story mengambil latar belakang kerusuhan Mei 1998 di Indonesia. Kerusuhan tersebut dipicu oleh krisis moneter yang berujung pada kelangkaan pangan dan pengangguran massal. Etnis Tionghoa menjadi sasaran kambing hitam dalam tragedi yang merupakan bagian kelam sejarah Indonesia sebelum era milenial.

Yang menarik, cerita The Toll Keeper Story tidak berfokus pada para demonstran atau pihak yang menyudutkan kelompok etnis tertentu. Sebaliknya, cerita disajikan dari perspektif seorang penjaga tol bernama Dewi, seorang calon ibu yang sedang hamil tua, sekaligus istri dari seorang sopir taksi yang turut berdemo.

Review 1998: The Toll Keeper Story

Dewi, yang sedang mengandung, harus tetap bekerja sebagai penjaga tol untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membayar kontrakan rumah. Ia berjuang mencari nafkah di tengah krisis moneter yang melanda Janapa, sebuah kota fiktif di Asia Tenggara. Di tengah maraknya demonstrasi dan protes massa, Dewi dihadapkan pada berbagai pilihan sulit demi melindungi keluarga kecilnya.

Review 1998: The Toll Keeper Story

Dewi memiliki seorang sahabat bernama Sinta, yang juga merasakan dampak langsung dari kerusuhan tersebut. Saat menjalankan tugasnya menjaga tol, pemain akan menemukan potongan-potongan kisah tentang bagaimana kerusuhan itu memengaruhi kehidupan sehari-hari orang-orang yang berjuang, mulai dari demo, patroli polisi, hingga berbagai situasi lainnya.

Keputusan yang diambil pemain akan memengaruhi akhir cerita Dewi, yang akan terungkap melalui sebuah diari yang ia tulis sepanjang permainan.

Gameplay 1998 The Toll Keeper Story

Review 1998: The Toll Keeper Story

Dalam 1998 The Toll Keeper Story, pemain berperan sebagai penjaga tol yang bertugas menerima dan mengembalikan uang kembalian sesuai dengan jenis kendaraan yang melintas.

Review 1998: The Toll Keeper Story

Terdapat empat jenis kendaraan yang akan melewati gerbang tol: kendaraan biasa dikenakan tarif 25 Rupiah, angkot dan sejenisnya 35 Rupiah, angkot besar dan truk 55 Rupiah, sementara kendaraan negara harus dilewatkan secara gratis.

Setiap hari, Dewi harus mengenali tipe kendaraan, memberikan kembalian yang tepat, dan sebagai imbalannya akan menerima gaji sebesar 20% dari total pendapatan tol. Namun, dengan berbagai kebutuhan harian seperti makan dan membayar kontrakan, Dewi tidak memiliki ruang untuk kesalahan. Kesalahan dalam perhitungan dapat berujung pada denda yang mengurangi tabungannya. Permainan akan berakhir jika tabungan Dewi mencapai nol rupiah.

Review 1998: The Toll Keeper Story

Ada berbagai cara bagi Dewi untuk menambah pundi-pundi uangnya. Pemain dapat memanfaatkan kesalahan perhitungan tarif dari setiap kendaraan untuk meningkatkan pendapatan tol, menyebarkan selebaran untuk mendapatkan bonus tambahan, atau melaporkan kendaraan yang melanggar aturan kepada pihak berwenang untuk mendapatkan imbalan.

Permainan menjadi semakin menarik ketika pemain mengikuti dialog yang diberikan oleh pengendara mobil setiap harinya. Hal ini dapat membuka misi sampingan (side quest) yang lebih kompleks, mengharuskan pemain untuk memeriksa berbagai detail seperti nomor plat kendaraan, uang palsu, dan lain sebagainya.

Review 1998: The Toll Keeper Story

Sebagai contoh, ada sebuah misi di mana seorang pengendara meminta Dewi untuk membayarkan tarif tolnya dengan imbalan tiga karung beras. Ada pula situasi di mana pemain diminta untuk menolak mobil di belakangnya karena dikira sebagai penguntit.

Elemen interaktif seperti kipas angin, kehadiran seekor kucing kecil bernama Bulbul, serta misi sampingan yang kaya narasi, membuat dunia The Toll Keeper Story terasa hidup meskipun memiliki cakupan yang sempit.

Setiap harinya, pemain dapat memeriksa berbagai tujuan yang harus dicapai Dewi. Dengan total 15 hari yang harus dilalui pemain sebelum permainan berakhir, pilihan-pilihan yang dibuat akan menghasilkan akhir cerita yang berbeda-beda.

Perbandingan dengan Paper Please

Review 1998: The Toll Keeper Story

Melihat gameplay yang ditawarkan, banyak yang mungkin bertanya apakah game ini merupakan tiruan dari Paper Please yang legendaris. Jawabannya adalah ya dan tidak. Gameplay game ini memang sangat terinspirasi dari Paper Please.

Namun, cerita yang disajikan sangat berbeda dan tidak kalah menarik. Terlebih lagi, narasi yang disampaikan terasa lebih relevan bagi pemain asal Indonesia.

Replayability 1998: Apakah Bisa Dimainkan Berulang?

Review 1998: The Toll Keeper Story

Sebagai game yang berfokus pada narasi, 1998 tentu menawarkan beragam akhir cerita seperti yang disebutkan sebelumnya, sehingga pemain dapat memainkannya berulang kali hingga menemukan ‘true ending’.

Meskipun demikian, gameplay inti dari 1998 sebenarnya cenderung sama dan tidak banyak berubah di setiap akhir cerita. Setelah mencoba mendapatkan beberapa ending, penulis menemukan bahwa perbedaan utama terletak pada jenis pengemudi yang melintas dan situasi ketika mereka tidak memiliki uang untuk membayar.

Hal ini menjadi penting karena ada situasi di mana Dewi ingin membagikan brosur kepada orang yang melewati tol. Jika mereka tidak memiliki uang untuk membayar tol, brosur tidak dapat dibagikan. Cara mengatasinya adalah dengan Dewi menggunakan tabungannya untuk mengizinkan mereka lewat. Hanya dengan membagikan brosur inilah Dewi dapat memperoleh item penting untuk mendapatkan akhir cerita yang berbeda.

Apakah Game 1998: The Toll Keeper Story Layak Dimainkan?

Review 1998: The Toll Keeper Story

Bagi para pecinta game dengan narasi kuat dan gameplay simulasi puzzle yang mirip dengan Paper Please, game ini merupakan pilihan yang tepat untuk menghabiskan waktu luang.

Game ini tidak hanya menyajikan kisah perjuangan seorang ibu dalam kehidupannya, tetapi juga sedikit gambaran sejarah era ’98 di Indonesia yang penuh ketegangan, meskipun tidak sepenuhnya menghadirkan kisah nyata.

1998: The Toll Keeper Story mungkin tidak menawarkan gameplay aksi seru dengan efek bombastis seperti game-game AAA modern. Namun, game ini menghadirkan kisah yang relatable bagi mereka yang pernah mengalami era ’98 dan dampaknya pada masyarakat awam yang hanya ingin menjalani hari-hari mereka di Janapa.

Baca juga: ufotable Garap Anime Tales Series: Sinyal Terbaru dari Studio

Menurut penulis, game ini sangat layak untuk dimainkan. Bagi yang tertarik, dengan harga sekitar Rp 80.000-an, para penggemar dapat memainkan The Toll Keeper Story langsung di Steam.

Artikel menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *