Diorama.id – Upaya adaptasi video game ke dalam format live action tampaknya masih menjadi tantangan besar bagi banyak studio dalam menemukan formula yang tepat dan konsisten.
Banyaknya hasil adaptasi yang kurang memuaskan membuat para gamer sering kali merasa kecewa, seolah-olah dana produksi yang sangat besar menjadi sia-sia.
Salah satu judul yang pernah diadaptasi adalah game fenomenal Yakuza, atau yang kini dikenal sebagai Like a Dragon. Sebelumnya, Amazon pernah merilis adaptasi live action, namun sayangnya, seri tersebut tidak berhasil menyentuh hati para penggemar.
Meskipun serial garapan Amazon tersebut digarap dengan anggaran yang tergolong tinggi dan melibatkan aktor-aktor ternama, rating yang didapatnya terbilang biasa saja. Namun, sebuah pendekatan baru yang datang dari Jepang, melalui studio Nihon Touitsu yang memang dikenal dengan drama gangster, justru menunjukkan hasil yang lebih memuaskan meskipun dengan anggaran yang lebih terbatas.
Aktor Drama Gangster Jepang Berikan Nuansa Lebih Dekat dengan Materi Asli
Serial live action terbaru ini diperkuat oleh para aktor yang sebelumnya membintangi drama gangster Jepang. Episode perdananya bahkan sudah bisa dinikmati secara gratis melalui kanal YouTube IGN, lengkap dengan terjemahan bahasa Inggris.
Rencananya, serial ini akan terdiri dari total 3 episode yang akan dirilis secara bertahap dalam rentang waktu satu minggu. Ini menegaskan bahwa proyek ini bukanlah serial panjang layaknya produksi mainstream, melainkan sebuah mini-series yang padat dan fokus.
Baca juga: Review Virtua Fighter 5 R.E.V.O. World Stage: Ekspansi Besar dengan Ruang Kosong
Cerita dalam adaptasi ini tetap setia berpusat pada karakter ikonik Kazuma Kiryu, yang dijuluki sebagai Dragon of Dojima. Kisahnya dimulai dari kepulangannya ke Kamurocho, setelah bertahun-tahun sebelumnya ia mengorbankan diri demi seorang sahabat. Namun, seperti yang sudah bisa diduga, kembalinya Kiryu tidak disambut dengan tangan terbuka.
Sebaliknya, ia justru harus kembali berhadapan dengan konflik masa lalu, jebakan yang mematikan, serta organisasi yang kini berbalik memusuhinya. Premis klasik ini sangat identik dengan nuansa dramatis yang menjadi ciri khas seri Yakuza itu sendiri.
Hal yang patut diapresiasi adalah, meskipun diproduksi dengan keterbatasan dana, adaptasi ini menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap materi sumbernya. Bahkan, beberapa elemen khas dari game, seperti adegan cutscene dan latar belakang yang dirender menggunakan engine PS5, turut dimasukkan ke dalam serial ini.
Inklusi elemen-elemen tersebut memberikan sentuhan unik yang jarang ditemukan pada adaptasi live action lainnya. Meskipun hasil akhirnya mungkin tidak mencapai kesempurnaan dalam hal produksi, namun serial ini terasa lebih tulus dalam menangkap esensi dunia Yakuza yang sesungguhnya.
Di tengah maraknya adaptasi berbiaya mahal yang justru gagal menangkap jiwa asli sebuah karya, pendekatan yang sederhana namun penuh perhatian seperti ini bisa jadi merupakan angin segar yang tidak terduga bagi para penggemar.

Leave a Reply