Indotify.com – Setelah penantian panjang dan fase Closed Beta Test yang diwarnai berbagai isu teknis, game urban open-world RPG berjudul Neverness to Everness (NTE) akhirnya resmi dirilis. Tim Indotify.com telah menghabiskan waktu dua minggu lebih untuk menjelajahi Hethereau City dan merasakan langsung berbagai konten yang ditawarkan.
Pertanyaan besarnya, apakah game garapan Hotta Studio ini berhasil bangkit dari keterpurukan CBT dan menawarkan pengalaman yang memuaskan? Mari kita bedah bersama dalam review mendalam Neverness to Everness ini.
Persiapkan diri Anda, karena ulasan ini akan cukup panjang. Penulis bahkan harus memangkas banyak hal agar Anda tidak merasa bingung saat membacanya. Tanpa basa-basi lagi, mari kita mulai perjalanan menuju Hethereau City!
Banyak Kekurangan, Kadang Bikin Jengkel!
Neverness to Everness hadir dengan konsep yang cukup menarik, menawarkan dunia urban open-world yang dipenuhi berbagai fitur. Mulai dari kendaraan yang bisa dikendarai, misi-misi yang bervariasi, hingga aktivitas sampingan yang melimpah. Namun, sayangnya, eksekusi dari banyak fitur ini terasa kurang memuaskan dan cenderung repetitif.
Mari kita mulai dari aspek kendaraan. Bagi penulis yang juga penggemar game balap, fitur ini menjadi salah satu daya tarik utama. Sayangnya, setelah perilisan versi 1.0, tidak ada perubahan signifikan yang terasa sejak fase CBT kemarin. Pengalaman berkendara justru terasa semakin kurang menyenangkan.
Meskipun handling mobil terasa cukup cepat, terutama setelah mendapatkan Regalia Griffin, para pemain yang mencari sensasi balapan murni kemungkinan besar akan kecewa. Handling kendaraan terasa kaku, dengan minimnya perbedaan performa antar mobil kecuali akselerasi dan kecepatan maksimal.
Hampir semua mobil terasa terlalu grippy, sehingga sulit untuk melakukan oversteer secara natural tanpa bantuan handbrake. Bahkan, saat melaju dengan top speed maksimal, sense of speed yang ditawarkan terasa lamban, seolah hanya cruising santai.
Yang lebih mengejutkan, untuk mendapatkan pengalaman balapan yang optimal, pemain disarankan untuk mengunci framerate di 30fps. Hal ini tentu sangat aneh, terutama saat melakukan manuver drifting di tikungan tajam. Penulis merasa Hotta Studio mungkin belum pernah benar-benar memainkan game balap atau game sekelas GTA.
Selain itu, pilihan mobil yang tersedia terasa sedikit dan kurang variatif, menambah kesan monoton pada pengalaman berkendara.
Banyak Ide Menarik, Namun Eksekusi Gagal Total!
Bagi Anda yang menyukai cerita dan mengharapkan nuansa anime komedi, NTE kemungkinan besar akan mengecewakan. Prolog awal terasa sangat lamban, diperparah dengan kehadiran karakter Taygedo yang terkadang terasa mengganggu. Bahkan, ada momen di mana pemain harus menunggu cukup lama untuk melanjutkan dialog.
Faktor pacing cerita yang lambat ini membuat penulis sering kali memilih untuk menekan tombol skip. Namun, tidak semua cerita buruk. Ada beberapa side story yang cukup menarik, seperti kisah Akane Rin, yang berhasil memikat berkat karakter-karakter yang kuat meskipun memiliki isu cerita yang serupa.
Baca juga: Pemeran Game Stranger Than Heaven: Ada Snoop Dogg dan Ado
NTE memiliki banyak ide menarik yang berpotensi besar, namun sayangnya eksekusinya terasa kurang matang. Contohnya adalah minigame rhythm yang bisa didapatkan dari side story Akane Rin. Terlepas dari seberapa mahir Anda bermain game rhythm, timing dan akurasi pada lane terasa berantakan.
Kemudian, ada misi anomali seperti Nameless Hospital yang membawa pemain ke suasana rumah sakit bernuansa horor. Secara konsep, misi ini menarik dengan atmosfer mencekam dan tantangan menghindari anomali yang tidak bisa dikalahkan. Namun, dalam eksekusinya, misi ini terasa mengecewakan.
Mencari key item terasa sangat sulit karena minimnya petunjuk atau highlight. Pemain terpaksa berulang kali menjelajahi ruangan demi ruangan untuk memastikan tidak ada item yang terlewat. Anomali yang memburu pun tidak lagi terasa menyeramkan, melainkan hanya menjadi penghalang yang menyebalkan.
Bahkan, ada trik yang ditemukan pemain untuk melewati anomali tanpa terdeteksi menggunakan dash Skia, yang justru semakin menghilangkan esensi horor dari misi tersebut. Hal serupa terjadi pada mode perampokan bank. Meskipun konsepnya menarik dengan ruangan yang bisa dieksplorasi, misi ini menjadi repetitif dan membosankan setelah beberapa kali dimainkan.
Variasi yang ditawarkan sangat minim, hanya mengandalkan pengacakan loot dan lokasi exit berupa phone booth. Hal ini bisa menjadi kendala bagi pemain kasual yang hanya ingin menyelesaikan misi mingguan untuk mendapatkan hadiah.
NTE terasa seperti pepatah “jack of all trade, master of none“. Hotta Studio mencoba menyajikan banyak mode, misi, dan aktivitas, namun sebagian besar berakhir menjadi repetitif, membosankan, atau tidak semenarik yang dibayangkan.
Ternyata, Tidak Semuanya Jelek!
Meskipun begitu, penulis tidak bisa berhenti memainkan NTE berkat beberapa faktor positif yang berhasil dieksekusi dengan baik. Salah satunya adalah pemandangan kota Hethereau yang sangat indah, terutama jika grafis diatur pada tingkat medium ke atas.
Desain kota yang terinspirasi dari Jepang ini menawarkan banyak lokasi menarik yang membuat pemain ingin mengabadikannya dalam foto. Hotta Studio patut diacungi jempol dalam hal visual.
Sistem pertarungan juga sebenarnya cukup baik. Mirip dengan Wuthering Waves, pertarungan terasa fast-paced dengan mekanika seperti perfect dodge, parry, dan character swap melalui sistem esper cycle. Kombinasi ini menghasilkan pertarungan yang dinamis dan bombastis.
Sistem pity pada gacha juga patut diapresiasi karena sangat bersahabat bagi pemain. Tidak ada lagi sistem 50:50 yang seringkali membuat frustrasi. Dalam 90 tarikan, pemain dijamin mendapatkan karakter limited banner yang diinginkan. Menarik lebih banyak lagi bahkan bisa memberikan skin karakter.
Optimisasi game juga tampak mengalami perbaikan signifikan. Dengan shader yang tidak lagi dikompilasi saat bermain, stutter yang signifikan di PC dapat dihindari. Di perangkat mobile pun performa tergolong baik, penulis bisa mendapatkan sekitar 45fps pada pengaturan medium di POCO X7 Pro.
Kesimpulan: Minimal Jajal Sekali, Deh!
Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, Neverness to Everness tetap berhasil memikat penulis. Keindahan visual, seleksi karakter yang menarik, dan konsep urban open-world yang segar menjadi daya tarik utamanya.
Bagi para pemain yang penasaran, penulis sangat menyarankan untuk mencoba NTE setidaknya sekali. Mungkin saja, Anda yang sudah jenuh dengan tema post-apocalypse atau high-fantasy akan menemukan kesegaran pada kota modern dengan berbagai referensi budaya pop anime.
Untuk review kali ini, Neverness to Everness mendapatkan skor 3/5.
Spesifikasi Minimum (PC)
Operating System
Processor
Memory
GPU
Storage
Windows 10
Intel Core i7-10700 atau AMD Ryzen 7 3700X
16GB
NVIDIA GTX 1660 atau AMD RX 5600 XT atau Intel Arc A580
60GB (SSD)
Sumber: Neverness.gg
Neverness to Everness
3/5
Neverness to Everness merupakan game gacha berbasis Urban Open-World Action RPG yang dikembangkan oleh Hotta Studio. Game ini menggabungkan berbagai macam elemen, dari komedi, supranatural, hingga kota urban modern yang terinspirasi dari Jepang. Jelajahi kota Hethereau, rakit tim-mu, dan kalahkan para anomali!
Genre
Urban Action-RPG
Developers
Hotta Studio
Publisher
N2E
Platform
Mobile, Playstation 5, PC
Price
Rp. 0

Leave a Reply