Diorama.id – Genre video game “toys to life” yang menggabungkan dunia digital dan fisik melalui mainan koleksi, kini tampaknya mendapatkan napas baru. Genre ini sempat populer beberapa tahun lalu, namun tingginya biaya produksi baik untuk game maupun mainan fisik, membuat banyak pengembang enggan untuk memproduksi judul baru.
Bagi yang belum akrab, genre toys to life adalah sebuah sub-genre unik di mana pemain dapat mengoleksi mainan fisik. Mainan-mainan ini kemudian dapat diintegrasikan ke dalam pengalaman bermain game, biasanya melalui pemindaian menggunakan teknologi seperti NFC, QR code, atau metode pemindaian lainnya.
Salah satu perwakilan paling dikenal dari genre ini adalah seri Skylanders, yang dikembangkan oleh Toys for Bob. Seri ini memungkinkan pemain untuk memindai mainan karakter mereka menggunakan teknologi NFC pada konsol game, lalu karakter tersebut hadir dan dapat dimainkan dalam dunia virtual game.
Mahalnya investasi yang dibutuhkan untuk menciptakan game dan lini produk mainan yang saling terkait, menjadi penghalang besar bagi perusahaan game raksasa untuk kembali merambah genre ini. Namun, semangat inovasi tampaknya tidak padam di kalangan pengembang game independen.
Sakumon: Kebangkitan Genre Toys to Life dengan Sentuhan Pokemon dan Animal Crossing
Sebuah game baru berjudul Sakumon hadir dengan ambisi untuk menghidupkan kembali genre toys to life. Tidak hanya mengusung tema monster collecting yang mengingatkan pada seri legendaris Pokemon, Sakumon juga mengadopsi elemen toys to life yang membuatnya berbeda.
Sakumon telah dirilis pada Juni 2026 sebagai game mobile free-to-play yang tersedia di App Store dan Google Play Store. Namun, esensi toys to life-nya mengharuskan pemain untuk membeli mainan fisik jika ingin mengoleksi lebih banyak monster di luar karakter starter yang disediakan secara gratis.
Sayangnya, koleksi mainan Sakumon ini tidaklah murah. Setiap set mainan dibanderol seharga 29 dolar Kanada, yang setara dengan sekitar Rp 370.000, belum termasuk biaya pajak dan ongkos kirim. Untuk saat ini, pengiriman hanya terbatas untuk wilayah Kanada, Amerika Serikat, dan Australia.
Secara visual, Sakumon menampilkan desain karakter yang imut dan ceria, sangat mengingatkan pada estetika Pokemon. Namun, game ini juga menawarkan fitur eksplorasi pulau dan kustomisasi lingkungan, yang mengingatkan pada pengalaman bermain game seperti Animal Crossing.
Sakumon memulai perjalanannya melalui sebuah kampanye Kickstarter. Platform ini memungkinkan publik untuk mendanai pengembangan proyek dengan imbalan berupa produk atau akses awal ke game, tergantung pada tingkatan donasi yang dipilih.
Keberhasilan kampanye ini cukup mengejutkan, berhasil mengumpulkan dana sebesar 140.000 dolar Kanada hanya dalam waktu satu bulan. Pengiriman mainan Sakumon sendiri dijadwalkan dimulai pada awal Juli 2026.
Banyaknya elemen yang mirip dengan Pokemon dan Animal Crossing tentu menimbulkan pertanyaan mengenai potensi reaksi dari Nintendo, yang dikenal protektif terhadap kekayaan intelektualnya, seperti yang terjadi pada kasus gugatan terhadap pengembang game Palworld.
Namun, Sakumon tampaknya lebih fokus pada aspek koleksi mainan dan integrasinya ke dalam game, daripada penangkapan monster secara langsung seperti yang menjadi ciri khas Pokemon. Hal ini mungkin membuat Nintendo kesulitan untuk mengambil langkah hukum terhadap Sakumon, mengingat perbedaan fokus utama dari kedua game tersebut.
Melihat potensi Sakumon, muncul pertanyaan menarik: apakah game ini mampu membangkitkan kembali minat terhadap genre toys to life dan mendorong pengembang lain untuk ikut serta menciptakan game sejenis? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Leave a Reply