Home » Developer Game Indie Bela Penggunaan AI: Solusi Penting bagi Tim Kecil

Developer Game Indie Bela Penggunaan AI: Solusi Penting bagi Tim Kecil

Diorama.id – Diskusi perihal pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di sektor video game kian meruncing. Kali ini, perhatian tertuju pada pengembang game asal Jepang, Takiya Iijima, yang mendapat kecaman usai terungkap memanfaatkan AI generatif untuk menyusun materi promosi proyek terbarunya.

Iijima, yang juga dikenal dengan nama Takeo Iijima, merupakan figur di balik sejumlah judul seperti Gakkou De Atta Kowai Hanashi serta serial visual novel Apathy. Ia sempat memamerkan proyek misterius Apathy lewat sebuah video pada 1 Agustus lalu. Setelah sempat mengelak saat ditanya mengenai metode produksinya, Iijima akhirnya mengonfirmasi bahwa tayangan tersebut memang dikerjakan dengan bantuan teknologi AI generatif.

Dalam sesi siaran langsungnya, Iijima memaparkan bahwa AI membantunya merealisasikan visual yang selaras dengan bayangan karakter serta pemeran yang sudah ada di benaknya. Trailer itu sendiri mengadopsi pendekatan visual dengan gaya live-action.

Bagi Iijima, teknologi ini memiliki signifikansi besar bagi pengembang independen karena mampu membantu menciptakan karya dengan keterbatasan sumber daya. Ia bahkan berencana meluncurkan game tersebut via studio indie miliknya, 7Korobi8Korogari, dengan banderol harga kurang dari 1.000 yen.

Ia berpendapat bahwa langkah ini tidak akan menjadi ancaman bagi perusahaan game berskala besar mengingat proyeknya dikerjakan dalam lingkup indie. Dengan dukungan AI, Iijima menyebut bahwa tim yang hanya beranggotakan satu atau dua orang tetap mampu menghasilkan konten berkualitas dengan biaya yang cukup efisien.

Walau begitu, Iijima menekankan bahwa prosesnya tidak sekadar memberikan perintah lalu membiarkan AI bekerja secara otomatis. Ia mengaku telah meluangkan banyak waktu untuk merancang dan memoles prompt demi memperoleh desain karakter serta visual yang tepat sesuai konsep impiannya.

Masalah hak cipta pun turut menjadi sorotan. Iijima menyatakan dirinya telah memastikan aspek terkait penggunaan AI serta hak cipta telah ditinjau dengan cermat. Ia bahkan rela merogoh kocek hingga ratusan ribu yen per bulan untuk berlangganan berbagai layanan AI demi kepentingan komersial. Menurutnya, beberapa sistem tersebut menggunakan karya berhak cipta milik studionya sendiri sebagai bagian dari alur pengembangan.

Uniknya, Iijima tidak berniat menggunakan AI secara menyeluruh untuk proyeknya. Naskah sekuel Apathy yang akan datang tetap akan ditulis sepenuhnya oleh dirinya. Ia ingin AI berperan sebagai instrumen pendukung kreatif, bukan sebagai pengganti proses kreativitas manusia.

Bagi Iijima, kontroversi seputar AI mungkin masih akan terus berlanjut. Namun, bagi pengembang indie dengan keterbatasan modal, teknologi ini dianggapnya mampu membuka celah baru untuk menciptakan game yang sebelumnya sulit untuk direalisasikan.

Artikel menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *