Indotify.com – Perkembangan teknologi digital kini bukan lagi sekadar menghadirkan kemudahan komunikasi dan akses informasi. Di balik derasnya arus konten media sosial, muncul ancaman baru yang perlahan memengaruhi cara masyarakat berpikir, bersikap, hingga mengambil keputusan. Pemerintah menilai situasi ini menjadi tantangan serius, terutama bagi generasi muda yang hidup di tengah dominasi platform digital dan algoritma media sosial.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengingatkan bahwa masyarakat saat ini tengah menghadapi bentuk baru penjajahan di era digital. Menurutnya, algoritma media sosial tidak hanya menentukan informasi apa yang muncul di layar pengguna, tetapi juga membentuk persepsi publik secara perlahan tanpa disadari.
Menurut Nezar, ruang digital saat ini membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara fakta, opini, maupun informasi yang telah dimanipulasi. Kondisi tersebut diperparah oleh pola konsumsi informasi yang cenderung hanya memperlihatkan pandangan serupa dengan preferensi pengguna.
Baca juga: COLORFUL Pamer Ekosistem Gaming & Lifestyle Ambisius di Computex 2026
“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” melansir dari Antara pada 24 Mei 2026.

Ia menilai situasi tersebut dapat memicu polarisasi sosial sekaligus memperkuat penyebaran misinformasi di tengah masyarakat. Kemampuan berpikir kritis pun dinilai semakin melemah karena banyak orang lebih mengedepankan sentimen dibandingkan verifikasi fakta.
Nezar bahkan menyinggung laporan World Economic Forum yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu ancaman global terbesar pada 2026. Fenomena itu dianggap lebih berbahaya karena mampu memecah masyarakat secara perlahan melalui manipulasi opini publik di ruang digital.
“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” tegasnya.
Menyikapi pernyataan dari Nezar Patria tersebut membuktikan bahwa, derasnya perkembangan teknologi dan dominasi algoritma media sosial, kemampuan berpikir kritis serta literasi digital menjadi bekal penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam arus misinformasi. Tantangan era digital kini bukan hanya soal mengikuti kemajuan teknologi, tetapi juga menjaga cara berpikir tetap rasional agar ruang digital dapat dimanfaatkan secara sehat, produktif, dan bertanggung jawab.

Leave a Reply