Home » Little Nightmares III: Review Kengerian Sinematik Kurang Menggigit

Little Nightmares III: Review Kengerian Sinematik Kurang Menggigit

Indotify.com – Empat tahun telah berlalu sejak para penggemar setia merasakan kembali atmosfer mencekam yang menjadi ciri khas dunia mimpi buruk Little Nightmares. Setelah seri kedua mengakhiri kisah pilu antara Six dan Mono, Bandai Namco akhirnya merilis Little Nightmares III pada 10 Oktober 2025. Game ini hadir untuk berbagai platform, termasuk Nintendo Switch, PlayStation 5, dan Xbox Series X/S. Namun, kali ini terjadi perubahan signifikan di balik layar. Tarsier Studios tidak lagi memegang kendali pengembangan, melainkan menyerahkannya kepada Supermassive Games, studio yang dikenal luas berkat karya-karya seperti Until Dawn dan The Dark Pictures Anthology.

Pergantian studio ini bukan sekadar pergantian teknis, melainkan juga membawa pergeseran dalam arah artistik dan atmosfer yang dibangun dalam permainan. Supermassive Games memperkenalkan nuansa sinematik dan pendekatan naratif yang lebih linear, berusaha menanamkan identitas mereka ke dalam dunia Little Nightmares yang sebelumnya sangat identik dengan kesunyian, simbolisme, dan eksplorasi sisi kelam. Cerita kali ini bergeser dari petualangan menegangkan Six dan Mono, menuju kisah dua karakter baru bernama Alone dan Low. Keduanya harus berjuang untuk bertahan hidup di sebuah dunia kelam yang dikenal sebagai The Nowhere, sebuah tempat di mana realitas seolah terpilin menjadi mimpi buruk yang tak berujung.

Namun, di balik semua inovasi yang ditawarkan, muncul pertanyaan krusial: apakah tangan dingin Supermassive Games berhasil mempertahankan esensi kengerian yang menjadi ciri khas Little Nightmares? Apakah fitur co-op benar-benar mampu memperkaya pengalaman bermain, atau justru malah melemahkan atmosfer kesendirian yang selama ini menjadi jiwa utama seri ini? Mari kita selami lebih dalam, sejauh mana Little Nightmares III mampu menebus ekspektasi dan rasa penasaran yang telah menumpuk selama empat tahun terakhir.

Dunia Mimpi Buruk yang Indah Tapi Kehilangan Gigitan

Little Nightmares III kembali membawa pemain untuk menjelajahi dunia mimpi buruk yang kelam dan sarat akan simbolisme. Kali ini, fokus cerita tertuju pada dua karakter baru: Low, seorang bocah berambut keriting yang mengenakan topeng gagak misterius, menyiratkan kesunyian yang mendalam; dan Alone, seorang gadis berbusana hijau cerah dengan dua kuncir rambut yang menciptakan kontras mencolok di tengah atmosfer yang suram. Keduanya berjuang keras untuk melarikan diri dari dunia mengerikan bernama The Nowhere, melalui empat babak utama yang meliputi The Necropolis, Candy Factory, The Carnival, dan The Institute.

Pada seri ketiga ini pihak pengembang memfokuskan cerita pada sosok Low dan Alone

Pada seri ketiga ini pihak pengembang memfokuskan cerita pada sosok Low dan Alone

Namun, di balik keindahan visual dan atmosfer yang begitu kuat, Little Nightmares III justru terasa kehilangan daya tarik utamanya: rasa tegang dan mekanisme permainan yang benar-benar menggigit. Gameplay yang seharusnya memberikan ruang luas bagi eksplorasi dan eksperimen, kini terasa kaku dan repetitif. Aksi kedua karakter juga cenderung terbatas pada momen-momen tertentu. Low hanya mampu menembakkan panah saat target telah ditentukan, sementara Alone menggunakan kunci inggrisnya di situasi-situasi spesifik. Hal ini membuat interaksi terasa tidak bebas, seolah pemain hanya diarahkan mengikuti sebuah naskah yang telah disusun sebelumnya, tanpa kebebasan untuk bereksperimen.

Terlalu Fokus Visual dan Sinematik

Keseimbangan antara elemen puzzle dan combat pun belum berhasil dieksekusi dengan baik. Beberapa bagian permainan masih mengikuti pola yang sama di setiap level: memecahkan teka-teki sederhana, kemudian berlari dari kejaran monster besar, tanpa adanya variasi signifikan yang mampu menambah ketegangan. Tidak banyak mekanisme baru yang dihadirkan; bahkan beberapa aspek seperti desain level dan sistem platforming terasa stagnan, hanya memperindah tampilan luar tanpa memperkaya pengalaman bermain secara substansial.

Baca juga: Demo Resident Evil Requiem Gratis Capcom Dirilis Tiba-Tiba, Tapi…

Padahal, kehadiran dua karakter dengan kemampuan yang berbeda seharusnya menjadi peluang besar untuk menghadirkan dinamika kooperatif yang sangat menarik. Sayangnya, potensi tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal. Supermassive Games memang berusaha mempertahankan identitas visual dan atmosfer khas Little Nightmares, tetapi terkesan terlalu memprioritaskan aspek sinematik hingga melupakan esensi dari gameplay yang menantang.

Terlalu fokus visual dan adegan cinematic buat Little Nightmare III kurang mengigit secara gameplay

Terlalu fokus visual dan adegan cinematic buat Little Nightmare III kurang mengigit secara gameplay

Sebagai hasilnya, Little Nightmares III tampil memukau secara estetika, dengan dunia yang menawan dan suasana horor yang indah sekaligus mengganggu. Namun, di balik tampilan mempesona tersebut, tersisa rasa hampa karena kurangnya kedalaman dalam aspek gameplay. Game ini akhirnya lebih menyerupai sebuah “galeri horor interaktif” yang indah untuk dilihat, tetapi sayangnya tidak cukup kuat untuk membuat pemain benar-benar tenggelam dalam kengerian yang dijanjikan.

Fitur Co-op yang Kurang Maksimal

Salah satu daya tarik utama Little Nightmares III terletak pada fitur co-op yang menjadi fokus utama pengembangannya. Game ini memang terasa lebih seru dan hidup ketika dimainkan bersama teman, karena berbagai momen di dalamnya dirancang agar kedua pemain bisa saling berinteraksi dan bekerja sama. Saat dimainkan berdua, pengalaman bermain menjadi lebih ringan dan menyenangkan, sangat berbeda dengan kesan tegang dan sunyi yang biasanya melekat pada seri-seri sebelumnya. Beberapa momen, terutama di level bos atau sesi stealth, bahkan bisa memunculkan kejadian lucu dan spontan yang menambah keseruan bermain bersama.

Little Nightmare III tawarkan pengalaman lebih maksimal saat dimainkan dalam mode co-op

Little Nightmare III tawarkan pengalaman lebih maksimal saat dimainkan dalam mode co-op

Namun, di sisi lain, pengalaman ini tidak sepenuhnya memuaskan. Little Nightmares III hanya menyediakan opsi online co-op, yang berarti pemain tidak bisa menikmati petualangan seram ini bersama teman secara langsung di layar yang sama. Keputusan untuk tidak menghadirkan mode local couch co-op terasa aneh, mengingat konsep dua karakter yang seharusnya sangat cocok dimainkan berdampingan. Padahal, kehadiran mode lokal bisa menjadi nilai tambah yang besar, terutama bagi mereka yang ingin menikmati permainan ini bersama pasangan, keluarga, atau sahabat dalam satu ruangan.

Bagi pemain yang memilih bermain sendirian, game ini tetap menyediakan opsi AI companion yang akan membantu mengisi peran karakter lain. Meskipun secara teknis fitur ini berfungsi dengan baik, interaksi dengan AI tidak mampu menggantikan dinamika emosional dan spontanitas yang muncul saat bermain dengan manusia. Akibatnya, sebagian nuansa kerja sama yang menjadi konsep utama game ini terasa kurang hidup.

Game ini memiliki pola stage yang hampir sama, puzzle, combat, kejar-kejaran dengan boss, hingga boss battle

Game ini memiliki pola stage yang hampir sama, puzzle, combat, kejar-kejaran dengan boss, hingga boss battle

Supermassive Games memang berusaha menghadirkan pengalaman co-op yang solid dan lebih ramah pemain, namun keputusan untuk membatasi mode permainan hanya secara daring membuat potensi besar ini terasa kurang maksimal. Alhasil, fitur yang seharusnya menjadi keunggulan justru terasa setengah matang, menawarkan keseruan sesaat, tetapi belum mampu menghadirkan kedalaman dan fleksibilitas yang diharapkan dari game dengan konsep dua karakter utama seperti Little Nightmares III.

Sebuah Evolusi yang Belum Sepenuhnya Matang

Little Nightmares III merupakan langkah berani dari Bandai Namco untuk memperbarui wajah seri horor yang selama ini dikenal melalui kesunyiannya yang mencekam. Supermassive Games berhasil mempertahankan pesona visual yang mengagumkan dan atmosfer mimpi buruk yang khas, lengkap dengan desain dunia yang penuh detail dan imajinasi. Namun, di balik keindahan tersebut, tersimpan kekosongan yang sulit diabaikan: hilangnya rasa isolasi, ketegangan psikologis, dan kebebasan bermain yang dulu menjadi daya tarik utama seri ini.

Perpaduan antara elemen puzzle dan sinematik memang terasa lebih modern, tetapi kurang memberikan ruang bagi eksplorasi maupun rasa takut yang tumbuh secara alami. Begitu pula dengan fitur co-op yang seharusnya menjadi bintang utama, justru tampil kurang maksimal karena absennya mode lokal dan keterbatasan dinamika gameplay. Meskipun bermain bersama teman secara daring bisa memberikan momen seru, pengalaman itu tidak cukup kuat untuk menggantikan kedalaman emosional yang dulu membuat pemain merasa benar-benar terjebak dalam mimpi buruk.

Little Nightmare menawaran berbagai pendekatan baru baik secara gameplay, namun hal tersebut belum berhasil di eksekusi dengan baik

Little Nightmare menawaran berbagai pendekatan baru baik secara gameplay, namun hal tersebut belum berhasil di eksekusi dengan baik

Game Ini Cocok Untuk
– Pemain yang menyukai game horor bergaya artistik dengan atmosfer suram namun indah.
– Penikmat game dengan visual sinematik dan narasi linear.
– Penggemar seri Little Nightmares yang ingin menjajal pendekatan gameplay kooperatif.
– Mereka yang mencari pengalaman horor ringan yang bisa dimainkan bersama teman.

Game Ini Tidak Cocok Untuk
– Pemain yang mencari sensasi tegang, sunyi, dan mencekam seperti dua seri sebelumnya.
– Mereka yang menginginkan gameplay eksploratif dan bebas tanpa batasan skenario.
– Pemain yang lebih suka local co-op atau bermain bersama teman di satu layar.

PROS
– Visual memukau dengan atmosfer kelam yang tetap mempertahankan identitas seri.
– Desain dunia penuh detail dan simbolisme yang menarik untuk dieksplorasi.
– Narasi sinematik khas Supermassive yang memperkuat sisi emosional karakter.
– Fitur online co-op memberi sentuhan baru dalam dinamika gameplay.
– Momen interaksi antar karakter menciptakan variasi seru dan ringan di tengah kegelapan.

CONS
– Kehilangan nuansa isolasi dan ketegangan psikologis khas Little Nightmares sebelumnya.
Gameplay terasa kaku dan repetitif, kurang ruang bagi eksplorasi dan improvisasi.
– Tidak adanya mode local co-op membuat fitur kerja sama terasa setengah matang.
– Puzzle dan platforming kurang variatif serta cenderung mudah ditebak.
– Terlalu fokus pada aspek visual dan sinematik hingga mengorbankan kedalaman gameplay.

Verdict

Pada akhirnya, Little Nightmares III tampil seperti mimpi buruk yang terlalu rapi, indah untuk dipandang, namun kehilangan gigitannya. Supermassive Games berhasil membawa seri ini ke arah yang lebih sinematik dan ramah pemain baru, tetapi dengan mengorbankan sebagian jiwa yang membuatnya begitu ikonik. Bagi penggemar lama, game ini mungkin terasa “nanggung,” sementara bagi pendatang baru, ia tetap layak dicoba sebagai pengalaman horor kooperatif yang ringan dan artistik, meskipun tak lagi seintens bayangan yang dulu menakuti kita di balik tirai mimpi.

Artikel menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *