– Crimson Desert menjadi salah satu game RPG yang sangat dinantikan oleh banyak penggemar, termasuk saya. Game ini menandai langkah baru bagi Pearl Abyss, pengembang yang telah dikenal luas melalui Black Desert, game online mereka yang populer.
Kali ini, Pearl Abyss berupaya menghadirkan pengalaman bermain single-player yang telah memantik ekspektasi tinggi dari para penggemar di seluruh dunia.
Kami berkesempatan untuk mengulas Crimson Desert melalui salinan ulasan yang diberikan saat perilisan. Namun, proses peninjauan ini ternyata membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Lebih dari satu bulan kami habiskan untuk mendalami game ini, selain karena akses ulasan baru diberikan saat peluncuran. Terlebih lagi, Crimson Desert juga menerima sejumlah pembaruan signifikan selama periode tersebut.
Perubahan-perubahan ini terasa cukup substansial, bahkan mengubah pengalaman bermain secara drastis dibandingkan versi awal. Oleh karena itu, jika Anda menemukan ulasan dari media lain yang terbit lebih awal, pengalaman mereka mungkin berbeda dengan yang kami rasakan.
Lantas, seperti apa pengalaman kami memainkan game ini? Mari kita selami ulasan lengkapnya.
Review Crimson Desert – Ketika MMORPG Menjadi Game Single Player
Sang Tentara Bayaran Terkuat yang Terpisah
Kisah Crimson Desert dimulai dengan Kliff yang sedang menikmati momen santai bersama rekan-rekannya di Greymane, salah satu kelompok tentara bayaran terkuat di dunia permainan. Namun, kedamaian itu seketika terusik ketika mereka tiba-tiba diserang oleh kelompok tentara bayaran lain bernama Black Bears.
Myurdin, pemimpin Black Bears, memimpin serangan tersebut. Ini bukan sekadar perang biasa, melainkan sebuah pembantaian berdarah tanpa ampun.
Kliff berusaha melawan dan menyelamatkan anggota Greymane yang ada. Namun, perlawanannya melawan Myurdin berakhir tragis.
Lehernya disayat setelah berhasil membantu banyak anggota Greymane lainnya untuk selamat. Ia kemudian dibuang ke sungai, dibiarkan mati begitu saja.
Namun, kematian itu tak pernah benar-benar datang.
Secara misterius, Kliff diselamatkan oleh kekuatan tak dikenal yang membuatnya tetap hidup. Kekuatan tersebut membawanya ke reruntuhan misterius yang dipenuhi teka-teki, seolah ada sesuatu yang memanggilnya kembali.
Dari titik ini, Kliff memulai perjalanan baru yang membawanya ke dunia luar, hingga akhirnya tiba di sebuah wilayah bernama Hernand. Di sana, Kliff menemukan fakta penting bahwa tidak semua anggota Greymane tewas.
Sejak saat itu, perjalanan Kliff untuk mencari tahu kekuatan misterius yang menyelamatkannya, menemukan sisa anggota Greymane, dan menuntut balas atas Myurdin pun dimulai. Namun, satu pertanyaan masih menggantung: mengapa Greymane diserang sedemikian rupa? Dan apa sebenarnya kekuatan yang menolak kematian Kliff?
Jawabannya mungkin akan terungkap setelah Anda memainkan Crimson Desert.
Aksi RPG dengan Kombinasi Layaknya Game Fighting
Saya sama sekali tidak pernah meragukan kemampuan Pearl Abyss dalam menciptakan sistem action RPG. Pengalaman mereka dalam genre ini, seperti yang terlihat di Black Desert, telah menjadi bukti, terutama melalui sistem kombinasi tombol yang menjadi ciri khasnya. Pendekatan ini kembali dibawa ke Crimson Desert.
Baca juga: Review Thick as Thieves: Maling Fantasi Dikejar Deadline
Meskipun awalnya penyesuaiannya cukup membingungkan, seiring berjalannya waktu, Anda mungkin akan bisa memahaminya secara natural, terlebih jika Anda terbiasa memainkan Black Desert seperti saya. Setiap serangan dan skill mampu dirangkai menjadi kombinasi yang bervariasi dan bukan sekadar asal menekan tombol.
Anda akan dipaksa untuk menggabungkan berbagai tombol seperti serangan akhir, tusukan, sabetan, lompatan, bahkan grappling hook untuk mendekati musuh Anda. Variasi serangan ini semakin menarik dengan banyaknya pilihan senjata selain pedang dan perisai sebagai senjata utama Kliff dan Damiane.
Mulai dari tombak, panah, hingga pertarungan tangan kosong dengan beragam gerakan yang mengingatkan pada gaya gulat ala WWE. Tak hanya variasi serangan, variasi karakter juga membuat game ini memiliki pendekatan bermain yang berbeda.
Kliff menawarkan fleksibilitas dan keseimbangan, Damiane berfokus pada kecepatan, sementara Oongka tampil dengan gaya bertarung yang berat dan destruktif. Hasil akhirnya adalah sistem pertempuran yang tidak hanya imersif, tetapi juga menantang.
Anda tidak hanya dituntut untuk terus reaktif, tetapi juga memahami kombinasi tombol yang Anda gunakan. Sayangnya, jenis game seperti ini memang tidak bisa dimainkan oleh mereka yang belum terbiasa, karena game ini bukan game yang sekadar menyerang, melainkan penuh dengan kombinasi presisi untuk menaklukkan lawan.
Dengan banyaknya kombo ini, Crimson Desert seolah ingin membawa pengalaman bermain game fighting yang terkenal dengan kombinasi tombolnya ke dalam game action RPG open world yang basisnya adalah eksplorasi.
Bebas, Lepas, Eksplorasi Puas
Dan ketika berbicara tentang eksplorasi, yang selalu menjadi kata kunci bagi setiap gamer RPG, Crimson Desert dijamin akan memanjakan Anda yang sangat menyukai elemen ini dalam game RPG. Setiap bioma, dunia, dan wilayah dalam game ini bukan sekadar area kosong, melainkan wilayah yang penuh dengan variasi lingkungan yang menawan.
Anda tidak menjelajahi dunia yang hanya berubah tampilan, tetapi semua yang Anda temui terasa hidup dan terus menakjubkan di setiap sudutnya. Mulai dari kota seperti Hernand yang ramai oleh aktivitas manusia, wilayah Demenis dengan tembok kastilnya yang menjulang tinggi, area Crimson Desert yang terinspirasi budaya Arab dengan struktur raksasanya yang megah, hingga wilayah Delesyia yang diramaikan oleh pasukan robot dan tema steampunk yang unik akan terus membuat Anda takjub tanpa henti.
Saya sangat menyukai pendekatan ini karena dunia yang sangat luas ini tidak hanya penuh variasi, tetapi juga cara eksplorasinya yang tidak biasa berkat keterikatannya dengan elemen fantasi, membuatnya sangat seimbang dan mudah dinikmati.
Tak hanya menunggangi kuda, di game ini Anda juga bisa naik balon udara, menggunakan grappling hook untuk melontarkan diri menggunakan pohon, gliding, bahkan terbang menunggangi naga yang juga bisa menembakkan bola-bola api. Ini belum termasuk NPC-nya yang membuat Crimson Desert semakin hidup.
Meskipun tidak realistis seperti NPC yang tidur di malam hari, kehadiran mereka dengan quest acak yang muncul jika diajak berinteraksi menambah kedalaman imersi Anda saat menjelajahi Pywel. Hal inilah yang membuat game ini tidak hanya nyaman untuk dinikmati, tetapi juga untuk dieksplorasi, dan tidak memaksa Anda hanya berjalan atau melintasi dunianya dengan menunggangi kuda saja.
Tak hanya dunia di atas tanah, Anda juga bisa menjelajahi dunia di atas langit, The Abyss. Sebuah dunia yang terhubung dengan kekuatan Kliff.
Di sini, otak Anda akan dipaksa berpikir keras, karena selain lokasi ini wajib dikunjungi demi membuka ability, Anda juga perlu melewati berbagai teka-teki yang harus Anda cari solusinya sendiri. Dan sama seperti pemandangan di atas tanah, pemandangan The Abyss ini juga tidak kalah memukau dan menakjubkan karena Anda bisa melihat Pywel dari langit.
Dari menara yang menjulang tinggi, betapa besarnya kota kastil yang dibangun, sampai betapa kerennya pergantian wilayah dari bersalju, gurun, dan padang rumput yang transisinya saling melengkapi satu sama lain. Eksplorasi yang bebas tanpa batasan ini juga dilengkapi elemen sandbox yang meskipun tidak mendetail, namun cukup menarik untuk menyelesaikan berbagai teka-teki yang ada.

Leave a Reply