Diorama.id – Crimson Desert tampaknya bakal terus mendulang kejayaan setelah peluncurannya. Bukan sekadar sukses secara komersial, game ini juga sukses menyabet segudang apresiasi.
Penghargaan yang diraih Pearl Abyss untuk Crimson Desert tidak terbatas pada pengakuan di forum pengembang game global berkat BlackSpace Engine ciptaan mereka, melainkan juga berbagai titel prestisius lainnya.
Tampaknya, rentetan penghargaan bagi Crimson Desert akan terus berlanjut sepanjang tahun 2026. Salah satunya datang dari negeri tirai bambu, China.
Crimson Desert Raih Penghargaan Bergengsi di China
Selain baru saja merilis pembaruan terkait sistem perdagangan yang kini lebih dinamis, Pearl Abyss juga sukses menyabet titel Best International Game dalam perhelatan China Game Innovation Awards (CGIA) 2026 yang dihelat bersamaan dengan pameran ChinaJoy 2026.
Ajang yang kini telah menginjak tahun keenam penyelenggaraannya ini dikelola oleh China Audio-Video and Digital Publishing Association bersama platform TapTap, dengan kriteria penilaian yang menitikberatkan pada inovasi, kapabilitas teknologi, serta kreativitas.
Dikutip dari GameMeca, Crimson Desert dianggap berhasil mencuri perhatian di seluruh kategori tersebut berkat lanskap dunia terbuka yang masif, performa teknis yang mumpuni, serta kecanggihan BlackSpace Engine yang dikembangkan sendiri oleh Pearl Abyss.
Selama berlangsungnya ChinaJoy, game ini juga menjadi salah satu sorotan utama yang bisa dijajal langsung oleh para pengunjung melalui stasiun demo yang disediakan.
Prestasi ini kian memperpanjang daftar raihan Crimson Desert di sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, game ini juga berhasil memenangkan Best Technical Innovation Award di ajang Develop:Star Awards yang berlokasi di Inggris, mengalahkan berbagai engine kenamaan dunia seperti Decima milik Sony dan idTech 8 milik DOOM.
Dengan Pearl Abyss yang masih gencar menyiapkan konten DLC serta berbagai pembaruan pasca-rilis, Crimson Desert diprediksi memiliki kans besar untuk kembali memenangkan berbagai penghargaan bergengsi lainnya di masa depan.
Bagaimana menurutmu? Sudah mencoba Crimson Desert? Atau mungkin kamu masih penasaran dengan pengalaman bermainnya? Kamu bisa menyimak ulasan lengkap kami melalui tautan berikut.
Baca artikel lainnya dari Ayyadana Akbar melalui tautan ini. Simak pula seluruh artikel editorial/wawancara/opini/listicle dari Diorama.id di tautan ini, serta ulasan lengkap mengenai video game/gadget/teknologi kami di tautan ini.
Bergabunglah dengan Komunitas Discord kami di tautan ini, kamu bisa bertanya secara langsung atau memberikan komentar mengenai artikel dan konten kami dengan me-mention admin (nama berwarna merah/oranye), kami mungkin tidak bisa menjawab dengan cepat jika tidak di-mention.
Untuk berita terkait video game PC/Konsol, ulasan game, siaran pers, dan segala hal seputar dunia gaming/teknologi PC, silakan hubungi saya di: [email protected].
Untuk keperluan iklan dan kerja sama bisnis dengan Diorama.id serta induk perusahaan kami Suaramerdeka.com, silakan kirimkan pertanyaanmu ke: [email protected] atau kunjungi tautan ini untuk informasi lebih lanjut.
Diorama.id – Crimson Desert merupakan salah satu game RPG yang sangat dinantikan oleh banyak orang, termasuk saya pribadi. Game ini menjadi langkah inovatif Pearl Abyss yang selama ini dikenal berkat kesuksesan game online mereka, Black Desert.
Kali ini, mereka mencoba menyuguhkan pengalaman bermain single-player yang memicu ekspektasi tinggi dari para penggemar di seluruh dunia.
Kami sendiri mendapatkan kesempatan untuk menjajal Crimson Desert melalui salinan ulasan yang diberikan saat rilis. Namun, proses peninjauan ini ternyata membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Perlu waktu lebih dari satu bulan bagi kami untuk benar-benar memahami mekanisme game ini, apalagi akses baru diberikan bertepatan dengan waktu peluncuran.
Terlebih lagi, Crimson Desert menerima serangkaian pembaruan signifikan dalam periode tersebut. Hal ini membawa perubahan yang cukup mendasar hingga membuat pengalaman bermainnya terasa berbeda dari versi awal perilisannya.
Jadi, jika kamu membaca ulasan media lain yang terbit lebih awal, kemungkinan pengalaman mereka tidaklah identik dengan apa yang kami rasakan.
Lantas, seperti apa impresi kami saat memainkan game ini? Mari langsung kita bahas dalam ulasan berikut.
Review Crimson Desert – Saat MMORPG Menjelma Menjadi Game Single Player
Mercenary Paling Tangguh yang Harus Terpisah
Kisah Crimson Desert bermula saat Kliff tengah berbincang santai dengan rekan-rekannya di Greymane, salah satu kelompok tentara bayaran terkuat di dunianya.
Namun, suasana berubah drastis setelah mereka tiba-tiba disergap oleh kelompok tentara bayaran lain bernama Black Bears.
Myurdin, sang pemimpin Black Bears, memimpin penyerangan ini. Bukan sekadar perang biasa, melainkan sebuah pembantaian berdarah yang brutal.
Kliff berusaha melawan dan menyelamatkan anggota Greymane yang tersisa. Namun, pertempurannya melawan Myurdin berakhir dengan tragis.
Lehernya terluka parah setelah ia berhasil membantu banyak anggota Greymane lainnya selamat. Ia kemudian dibuang ke sungai, dibiarkan tewas begitu saja.
Akan tetapi, kematian tersebut tidak pernah benar-benar menjemputnya.
Secara ajaib, Kliff diselamatkan oleh kekuatan tak dikenal yang membuatnya tetap hidup, membawanya ke reruntuhan kuno yang penuh teka-teki, seolah ada sesuatu yang memanggilnya kembali.
Dari titik itulah, Kliff memulai petualangan barunya, membawanya menjelajahi dunia luar hingga tiba di wilayah bernama Hernand.
Di sana, Kliff menemukan fakta krusial bahwa tidak semua anggota Greymane tewas.
Sejak saat itu, upaya Kliff untuk mencari tahu asal-usul kekuatan misterius yang menyelamatkannya, melacak sisa anggota Greymane, serta membalas dendam kepada Myurdin pun dimulai.
Namun, satu pertanyaan besar masih menggantung: mengapa Greymane diserang sedemikian rupa? Dan apa sebenarnya kekuatan yang menolak kematian Kliff tersebut?
Jawabannya mungkin akan terungkap setelah kamu memainkan Crimson Desert sendiri.
Action RPG dengan Kombo Ala Game Fighting
Saya tidak pernah meragukan kepiawaian Pearl Abyss dalam meracik game action RPG. Pengalaman mereka dengan sistem action RPG seperti Black Desert sudah menjadi bukti nyata, terutama melalui sistem kombinasi tombol yang menjadi ciri khasnya. Pendekatan ini kembali diterapkan pada Crimson Desert.
Meski awalnya penyesuaian mungkin terasa membingungkan, seiring berjalannya waktu, kamu akan memahaminya secara alami, terutama jika kamu sudah terbiasa memainkan Black Desert seperti saya.
Setiap serangan dan skill dapat dirangkai menjadi kombinasi yang variatif, bukan sekadar menekan tombol secara asal. Kamu akan dituntut untuk memadukan berbagai aksi seperti finisher, serangan tusukan, tebasan, lompatan, hingga penggunaan grappling hook untuk mendekati musuh.
Variasi serangan ini semakin menarik dengan tersedianya berbagai senjata selain pedang dan perisai yang menjadi senjata standar Kliff dan Damiane. Mulai dari tombak, panah, hingga pertarungan tangan kosong dengan gerakan yang mengingatkan pada aksi gulat WWE.
Selain variasi serangan, perbedaan karakter juga memberikan gaya bermain yang unik. Kliff menawarkan fleksibilitas dan keseimbangan, Damiane fokus pada kecepatan, sementara Oongka hadir dengan gaya bertempur yang berat dan destruktif.
Hasil akhirnya? Sistem pertarungan yang tidak hanya imersif, tetapi juga menantang. Kamu dituntut tidak hanya reaktif, tetapi juga memahami rangkaian tombol yang digunakan.
Sayangnya, tipe permainan seperti ini mungkin kurang ramah bagi pemain yang belum terbiasa. Game ini bukanlah tipe permainan yang asal menyerang, melainkan membutuhkan presisi tinggi dalam mengeksekusi kombo untuk menumbangkan lawan.
Dengan kompleksitas kombo tersebut, Crimson Desert seolah ingin membawa sensasi game fighting yang sarat kombinasi tombol ke dalam genre action RPG open world yang berbasis eksplorasi.
Bebas, Lepas, Eksplorasi Puas
Berbicara mengenai eksplorasi yang selalu menjadi elemen krusial bagi penggemar RPG, Crimson Desert dipastikan akan memanjakan mereka yang sangat menyukai aspek ini.
Setiap bioma dan wilayah dunianya bukanlah area kosong, melainkan lingkungan yang penuh dengan variasi lanskap yang menawan.
Kamu tidak sekadar menjelajahi dunia yang berubah-ubah, melainkan semua yang ditemui terasa hidup dan terus memikat di setiap sudutnya.
Mulai dari kota seperti Hernand yang hiruk pikuk, wilayah Demenis dengan benteng kastil yang menjulang, area Crimson Desert yang terinspirasi dari arsitektur Arab dan struktur raksasanya, hingga wilayah Delesyia yang dipenuhi pasukan robot dan tema steampunk yang unik akan terus membuatmu takjub.
Saya sangat mengapresiasi pendekatan ini karena dunia yang sangat luas tersebut tidak hanya penuh variasi, tetapi metode eksplorasinya juga terasa segar berkat keterkaitannya dengan elemen fantasi, sehingga terasa seimbang dan sangat menyenangkan untuk dinikmati.
Selain menunggang kuda, kamu bisa menaiki balon udara, menggunakan grappling hook untuk melontarkan diri di pepohonan, meluncur (gliding), hingga terbang dengan menunggangi naga yang mampu menyemburkan bola api. Hal ini belum termasuk interaksi dengan NPC yang membuat dunia Crimson Desert terasa semakin hidup.
Meskipun mungkin tidak serealistis NPC yang tidur di malam hari, kehadiran mereka dengan pencarian acak saat diajak berinteraksi menambah kedalaman imersif saat kamu menjelajahi Pywel.
Inilah yang membuat game ini tidak hanya betah untuk dinikmati, tetapi juga mengundang untuk dijelajahi tanpa membatasi pemain hanya dengan berjalan kaki atau menunggang kuda.
Tidak hanya di permukaan tanah, kamu bahkan bisa mengeksplorasi dunia di atas awan, yakni The Abyss, sebuah dimensi yang terhubung dengan kekuatan Kliff.
Di sini, kecerdasanmu akan diuji karena selain wajib dikunjungi untuk membuka kemampuan baru, kamu juga harus memecahkan berbagai teka-teki secara mandiri.
Sama seperti pemandangan di daratan, panorama The Abyss juga tidak kalah memukau karena kamu bisa melihat Pywel dari langit. Dari menara yang menjulang, kemegahan kastil, hingga transisi wilayah dari salju, gurun, hingga padang rumput yang terlihat sangat apik.
Eksplorasi yang bebas tanpa batas ini juga dilengkapi elemen sandbox yang, meski tidak terlalu detail, cukup menarik untuk menyelesaikan berbagai teka-teki yang tersedia.
Sebagai contoh, kamu bisa membakar sulur pohon untuk membuka jalan dengan panah api yang bisa dibuat dari panah biasa dan obor di sekitar, atau menggunakan kemampuan blinding flash untuk membakar rumput hingga daging yang kamu buang.
Ini hanyalah sebagian kecil dari berbagai kemungkinan dan pemanfaatan elemen dunia yang bisa kamu eksplorasi. Hal ini menjadikan Crimson Desert…
Hanya saja, saya cukup kecewa dengan ketergantungan Blackspace Engine yang digunakan Pearl Abyss terhadap ray tracing. Hal ini mengakibatkan visual dunia saat eksplorasi di malam hari kurang optimal.
Jika di siang hari semuanya tampak indah, maka saat malam atau berada di area gelap, tanpa ray tracing, cahaya dan bayangan akan terlihat flushed-out. Bayangan dalam game ini tampak seperti animasi piksel yang berantakan.
Hingga pembaruan terkini, Pearl Abyss masih belum memberikan optimasi untuk masalah ini.
Saya telah menanyakan hal ini kepada perwakilan Pearl Abyss, dan saat ini mereka menyatakan komitmen untuk melakukan perbaikan berdasarkan umpan balik yang diterima.
Dengan kata lain, semua kekurangan teknis saat ini nantinya akan diperbaiki, melihat konsistensi

Leave a Reply