Home » Tung Tung Sahur: Amerika vs Prancis, Siapa yang Menang?

Tung Tung Sahur: Amerika vs Prancis, Siapa yang Menang?

Indotify.com – Fenomena brainrot, yang awalnya hanya dianggap sebagai tren meme internet, kini telah memasuki babak baru dengan perseteruan hukum yang melibatkan perusahaan asal Amerika Serikat dan Prancis. Karakter-karakter absurd yang lahir dari kreativitas digital dan berkembang pesat di media sosial kini menjadi rebutan hak kekayaan intelektual. Di antara semua karakter tersebut, Tung Tung Sahur menonjol sebagai salah satu ikon terbesar yang mendorong popularitas budaya brainrot hingga dikenal secara global.

Karakter Tung Tung Sahur kini menjadi pusat sengketa hukum di Amerika Serikat, mempertemukan Spyder Games LLC dan Speedy Simulator Gaming LLC, pengembang game Roblox Steal a Brainrot, dengan perusahaan asal Prancis, Mementum Lab SAS. Mementum Lab mengklaim mewakili para kreator di balik sejumlah karakter brainrot populer, termasuk Tung Tung Sahur.

Dokumen pengadilan mengungkapkan bahwa Tung Tung Sahur diciptakan oleh kreator konten Indonesia bernama Noxa. Karakter unik ini terinspirasi dari tradisi membangunkan warga untuk makan sahur selama bulan Ramadan. Ia divisualisasikan sebagai sosok humanoid berbentuk kentongan yang memegang tongkat kayu, sebuah konsep yang dengan cepat menjadikannya salah satu karakter paling mudah dikenali dalam ranah brainrot.

Popularitas Tung Tung Sahur membawanya masuk ke dalam game Steal a Brainrot di platform Roblox. Dalam game ini, pemain diajak untuk mengumpulkan, mencuri, dan menghasilkan mata uang virtual dari berbagai karakter brainrot. Namun, penggunaan karakter tersebut memicu konflik hukum setelah Mementum Lab mengirimkan surat penghentian penggunaan (cease-and-desist) pada September 2025, dengan alasan mereka memiliki hak kekayaan intelektual atas Tung Tung Sahur.

Menanggapi surat tersebut, pihak pengembang game sempat menghapus karakter Tung Tung Sahur dan membuka negosiasi lisensi dengan Mementum Lab. Sayangnya, pembicaraan tersebut tidak membuahkan kesepakatan. Mementum Lab kemudian menuduh bahwa Tung Tung Sahur dimasukkan kembali ke dalam game tanpa izin, yang akhirnya menyeret sengketa ini ke pengadilan federal di California.

Dalam upaya pembelaan, Spyder Games dan Speedy Simulator Gaming mengajukan gugatan balik. Mereka meminta pengadilan untuk menyatakan bahwa Mementum Lab tidak memiliki hak cipta yang sah maupun dapat diberlakukan atas Tung Tung Sahur dan karakter brainrot lainnya. Argumen utama mereka adalah bahwa sebagian besar karakter tersebut dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI), yang menurut hukum Amerika Serikat, tidak memenuhi syarat kepengarangan manusia yang menjadi dasar perlindungan hak cipta.

Namun, Mementum Lab membantah keras klaim tersebut. Perusahaan asal Prancis ini menegaskan bahwa Noxa, bersama dengan kreator lain bernama Breno, menjalani proses kreatif yang mendalam. Proses ini mencakup penciptaan nama karakter, latar cerita, suara, musik, hingga video pendukung. Dengan demikian, Mementum Lab berargumen bahwa karya tersebut tetap memenuhi unsur kreativitas manusia yang layak memperoleh perlindungan hukum.

Tidak hanya mengandalkan argumen hak cipta, Mementum Lab juga mengajukan gugatan balik dengan tuduhan pelanggaran merek dagang dan persaingan usaha tidak sehat. Mereka mengklaim memiliki hak atas nama serta identitas visual Tung Tung Sahur. Penggunaan karakter tersebut dalam game Steal a Brainrot dinilai berpotensi menyesatkan pemain, seolah-olah penggunaannya telah memperoleh izin resmi.

Lebih lanjut, Mementum Lab mengungkap bahwa Tung Tung Sahur telah dilisensikan ke berbagai produk lain, mencakup game, mainan, buku, e-book, hingga barang konsumsi. Di sisi lain, pihak pengembang game berpendapat bahwa karakter fiksi seperti Tung Tung Sahur seharusnya tidak dapat dijadikan identitas merek dagang untuk mengendalikan seluruh penggunaan kreatifnya.

Perkara hukum ini kini tidak lagi sekadar membahas kepemilikan satu karakter viral. Sengketa ini berpotensi menjadi preseden penting mengenai kepemilikan karakter meme yang lahir di era kecerdasan buatan. Kasus ini juga akan menguji batas antara hak cipta dan merek dagang ketika sebuah karakter internet berkembang menjadi aset komersial yang bernilai tinggi.

Sidang lanjutan dijadwalkan berlangsung pada 16 September 2026. Hasil dari persidangan ini diperkirakan akan menjadi acuan penting bagi industri game, para kreator konten, serta masa depan karakter brainrot di seluruh dunia, menandai pergeseran dalam lanskap kekayaan intelektual di era digital.

Artikel menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *