Home » Dev Suicide Squad: Pengembangan Game Ini Bikin Kapok Bikin Game

Dev Suicide Squad: Pengembangan Game Ini Bikin Kapok Bikin Game

Diorama.id – Industri game superhero telah lama mendefinisikan standar kualitasnya, dan studio Rocksteady memegang peranan krusial dalam hal ini. Melalui seri Batman Arkham, mereka berhasil menciptakan pengalaman bermain yang membuat pemain benar-benar merasa menjadi superhero, dengan kebebasan dan kekuatan yang identik dengan karakter ikonik tersebut.

Pengaruh Rocksteady bahkan meluas ke developer lain, seperti Insomniac Games yang sukses menghadirkan sensasi menjadi Spider-Man dalam seri Marvel’s Spider-Man. Namun, pasca kepergian pendirinya, Rocksteady menghadapi tantangan baru ketika Warner Bros mengarahkan mereka untuk mengembangkan game live service bertajuk Suicide Squad: Kill the Justice League.

Perubahan arah ini menjadi titik krusial. Proyek yang awalnya digadang-gadang sebagai pengalaman single player offline diubah menjadi game online co-op. Keputusan ini seolah mengabaikan pelajaran dari kegagalan game serupa, seperti Marvel’s Avengers, yang juga mengalami nasib kurang beruntung di pasaran dan menimbulkan kerugian bagi Square Enix.

Prediksi tersebut terbukti benar. Suicide Squad: Kill the Justice League resmi dinyatakan gagal pasca peluncurannya, dibanjiri ulasan negatif dari para gamer. Yang menarik, keluhan para pemain ternyata memiliki resonansi yang sama dengan pengakuan salah satu developer yang terlibat dalam proses pengembangannya.

Pengakuan Mengejutkan: Pengembangan Suicide Squad Nyaris Membuat Seorang Developer Enggan Berkarya Lagi

Sebuah laporan mendalam dari Bloomberg, yang kemudian dikonfirmasi oleh berbagai media game ternama, mengungkap pengalaman pahit dua mantan petinggi Rocksteady selama proses pengembangan Suicide Squad: Kill the Justice League. Pengakuan mereka memberikan gambaran jelas bagaimana tekanan bisnis dan tuntutan pasar secara perlahan menggeser fokus dan tujuan awal pengembangan game tersebut.

Axel Rydby, salah satu dari empat sutradara yang terlibat dalam proyek Suicide Squad: Kill the Justice League, secara terbuka mengaku bahwa proyek tersebut sempat membuatnya merasa ingin berhenti total dari dunia pengembangan game. Ia bergabung dengan Rocksteady pada tahun 2018, di saat studio tersebut masih diliputi euforia kesuksesan seri Batman Arkham.

Pada awalnya, tim pengembang memiliki keyakinan kuat untuk menciptakan sebuah game live-service yang berkualitas tinggi. Namun, seiring berjalannya waktu, situasi di dalam studio mulai berubah drastis.

Menurut Rydby, semakin lama proses pengembangan berlangsung, bahkan setelah mengalami penundaan dari jadwal rilis awal 2022 ke 2024, tekanan dari pihak eksekutif Warner Bros semakin meningkat. Tujuannya jelas: memastikan investasi besar yang telah dikeluarkan dapat kembali berlipat ganda. Akibatnya, fokus utama pengembangan bergeser dari esensi menciptakan pengalaman bermain yang menyenangkan, menjadi pencapaian target monetisasi, retensi pemain, dan berbagai analisis bisnis yang kompleks.

Rydby bahkan mengungkapkan bahwa pada satu titik, ia merasa tidak lagi sedang membuat game, melainkan hanya sekadar mengikuti lembaran spreadsheet yang penuh dengan data pemasaran. Kondisi ini sangat kontras dengan dunia industri game yang ia impikan sejak awal, sebuah tempat di mana kreativitas dan inovasi menjadi prioritas utama.

Pasca meninggalkan Rocksteady, Rydby bersama mantan rekannya, Johnny Armstrong, memutuskan untuk menempuh jalan baru dengan mendirikan studio independen. Mereka kini tengah menggalang dana melalui platform Kickstarter untuk proyek terbaru mereka, yang diberi judul Secret of Circadia.

Sementara itu, Rocksteady sendiri dikabarkan sedang kembali menggarap proyek game Batman yang berfokus pada pengalaman single player. Meski demikian, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai detail proyek tersebut.

Pengalaman pengembangan Suicide Squad: Kill the Justice League ini menjadi studi kasus menarik mengenai benturan antara visi kreatif developer dan tuntutan komersial publisher. Hal ini kembali memunculkan perdebatan di kalangan gamer mengenai preferensi mereka: apakah game bergenre live service dengan elemen online multiplayer yang terus diperbarui, atau pengalaman single player offline yang lebih fokus pada narasi dan gameplay yang terdefinisi.

Artikel menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *